Asuhan Keperawatan Gonorhoe
GONORHOE
A. Konsep
Dasar Medis
1. Pengertian
Gonorhoe
adalah infeksi menular seksual pada permukaan selaput lendir di sebabkan oleh
mikroorganisme Neisseria gonorhoeae.
Gonorhoe
adalah penyakit menular seksual yang di sebabkan oleh bakteri Neisseria
gonorhoeae yang meninfeksi lapisan dalam saluran kandung kemih, leher Rahim,
rectum, tenggorokan, serta bagian putih mata. Penyakit gonorhoe ini dapat
menyebar melalui aliran darah ke bagian tubuh lainnya terutama pada kulit dan
persendian. Bila penyakit gonorhoe ini menyerang wanita, maka wanita tersebut
bisa merasakan nyeri panggul serta gangguan reproduksi. Penyakit gonorhoe ini
tidak hanya menyerang pria dan wanita dewasa, namun bayi yang baru lahir,
sekalipun bisa terinfeksi gonorhoe dari ibunya bila selama proses kelahiran
terjadi pembengkakan pada kedua kelopak matanya dan mengeluarkan nanah. Bila
tidak segera di tangani dan diobati, bisa menyebabkan kebutaan pada bayinya.
2. Tanda
dan gejala gonorhoe
a. Pada
pria, gejala awal biasanya timbul dalam waktu 2 sampai 7 hari setelah
terinfeksi
b. Gejalanya
berawal sebagai rasa tidak enak pada uretra, yang beberapa jam kemudian diikuti
oleh nyeri ketika berkemih dan keluarnya nanah dari penis.
c. Penderita
sering berkemih dan merasakan desakan untuk berkemih, yang semakin memburuk
ketika penyakit menyebar ke uretra bagian atas. Lubang penis tampak merah dan
membengkak
d. Pada
wanita, gejala awal bisa timbul dalam waktu 7 sampai 21 hari setelah terinfeksi
e. Penderita
wanita sering kali tidak menunjukan gejala selama beberapa minggu atau bulan,
dan di ketahui menderita penyakit ini hanya setelah mitra seksualnya tertular
f. Jika
timbul gejala, biasanya bersifat ringan. Tetapi beberapa penderita menunjukan
gejala yang berat, seperti desakan untuk berkemih, nyeri ketika berkemih,
keluarnya cairan dari vagina dan demam.
g. Infeksi
bisa menyerang leher Rahim, Rahim, saluran telur, indung telur, uretra dan
rectum., menyebabkan nyeri pinggul yang dalam atau nyeri ketika melakukan
hubungan seksual
h. Nanah
yang keluar bisa berasal dari leher Rahim, uretra atau kelenjar di sekitar
lubang vagina
i.
Wanita dan pria homoseksual yang
melakukan hubungan seksual melalui anus (lubang dubur) bisa menderita gonorhoe
pada rektumnya.
j.
Penderita merasakan tidak nyaman
disekitar anusnya dan dari rektumnya keluar cairan. Daerah sekitar anus tampak
merah dan kasar, tinjanya terbungkus oleh lendir dan nanah.
k. Pada
pemeriksaan dengan anaskop akan tampak lendir da cairan di dinding rectum
penderita.
l.
Melakukan hubungan seksual melalui mulut
(oral seks) dengan seorang penderita gonorhoe bisa menyebabkan gonorhoe pada
tenggorokan (faringitis gonokokal).
m. Biasanya
infeksi ini tidak menimbulkan gejala, tetapi kadang menyebabkan nyeri
tenggorokan dan gangguan menelan
n. Jika
cairan yang terinfeksi mengenai mata bisa terjadi infeksi mata luar
(konjungtivitis gonorhoe)
o. Bayi
baru lahir bisa terinfeksi oleh gonorhoe dari ibunya selama proses persalinan,
sehingga terjadi pembengkakan pada kedua kelopak matanya dan dari matanya
keluar nanah
p. Pada
dewasa, bisa terjadi gejala yang sama, tetapi sering kali hanya satu mata yang
terkena
q. Jika
infeksi ini tidak diobati bisa terjadi kebutaan
r.
Pada pria, akan keluar nanah dari
saluran kencing dan rasanya sangat panas seperti terbakar.
s. Pada
wanita, infeksi dapat terjadi pada saluran kencing, vagina ataupun serviks
t.
Wanita juga bisa merasakan nyeri perut
yang sangat hebat
u. Bertambahnya
cairan yang keluar dari vagina
v. Ujung
biah zakar berwarna merah dan membengkak
w. Merasakan
sakit yang luar biasa saat buang air kecil
x. Air
kencing berwarna kuning kehijauan.
3. Patofisiologi dan pathogenesis
Neisseria
gonorhoeae adalah bakteri gram negative yang di tularkan hampir semua kontak
seksual bakteri secara langsung menginfeksi uretra, endorserviks, saluran anus,
konjungtiva dan faring. Infeksi dapat meluas dan melibatkan prostat, vasdeferent, vesikuar seminalis, epididymis,
serta testis pada pria, endometrium, tuba falopi dan ovarium pada wanita.
Komplikasi lebih lanjut adalah dermatitis, artritis, endocarditis, miokarditis,
meningitis dan hepatitis.
Pada
pria akan timbul gejala-gejala dan tanda-tanda urethritis dalam waktu 2-5 hari
sampai 1 bulan. Tanda pertama adalah secret uretra purelen berwana kuning atau
kuning kehijauan. Pada pria tidak serkumsisi dapat terjadi balanopostitis. Sehingga
timbul secret dari bawah prepesium. Kompikasi balanopostitis adalah akibat dari
peradangan dan edema pada glans. Kurang dari 5% pria dengan uretritis gonokkok
yang tidak berkompilkasi menjadi asimtomatik. Jika tidak di obati dalam waktu
10-14 hari, infeksi akan naik dari uretra anterior ke uretra posterior. Dysuria
menjadi bertamba berat dan terjadi malaise, sakit kepala, serta linfadenotapi
regional.Infeksi yang terus berlanjut menyebabkan prostatitis, epididymitis,
dan sistitis.
Masa
inkubasi pada wanita berlangsung sedikitnya 2 minggu. Tempat peimer dari
infeksi adalah endoserviks, dengan infeksi uretra pada 70-90% kasus. Urethritis
primer tnpa melibatkan serviks jarang terjadi pada wanita, tetapi dapat terjadi
pada mereka yang telah menjalani histrektomi total. Lebih dari separuh wanita yang terinfeksi
gonorhoe tidak mempunyai gejala, atau kalaupun ada hanya gejala ringan yang
sering kali di abaikan, seperti secret vagina, disuria, sering berkemih, sakit
punggung belakang, serta nyeri abdomen dan panggul. Pada pemeriksaan, serviks
tampak rapuh dan bengkak, sering disertai secret purulen atau mukopurulen. Kelenjer
bartholini mungkin terkena sehingga dapat terbentuk abses. Mukosa rectum dapat
terinfeksi pada pria dan wanita sebagai akibat otoinokulasi atau hubungan
seksual melalui anus. Infeksi para faring adalah akibat kontak seksual
orogenital. Konjungtivitis gonokok terjadi melalui kontaminasi langsung pada
mata melalui jari atau handuk. Neonates mendapat konjungtivitis gonokok pada
persalinan saat melalui jalan lahir yang terinfeksi.
4. Komplikasi
gonorrhea
a.
Infeksi kadang menyebar melalui aliran
darah ke satu atau beberapa sendi, dimana sendi menjadi bengkak, dan sangat
nyeri, sehingga pergerakannya menjadi terbatas.
b.
Infeksi melalui aliran darah juga bisa
menyebabkan timbulnya bintik-bintik merah berisi nanah di kulit, demam, rasa
tidak enak badan atau nyeri di beberapa sendi yang berpindah dari satu sendi ke
sendi lainnya (sindroma atritisdermatiti)
c.
Bisa terjadi infeksi
jantung(endokarditis)
d.
Infeksi pembungkus hati (perihepatitis)
bisa menyebabkan nyeri yang menyerupai kelainan kandung enpedu.
e.
Kompikasi yang terjadi bisa di atasi dan
jarang berakibat fatal, tetapi masa penyembuhan untuk atritis atau endocarditis
berlangsung lambat.
5. Pencegahan
gonorhea
a.
Tidak melakukan hubungan seksual baik
vaginal, oral dan anal dengan orang yang terinfeksi
b.
Pemakaian kondom dapat mengurangi tetapi
tidak dapat menghilangkan sama sekali risiko penularan penyakit ini
c.
Hindari hubungan seksual sampai
pengobatan anti biotik selesai
d.
Sarankan juga pasangan seksual kita
untuk diperiksa guna mencega infeksi lebih jauh dan mencegah penularan
e.
Wanita tunasusila agar selalu
memeriksakan dirinya secara teratur, sehingga jika terkena infeksi dapat segera
di obati dengan benar
f.
Pengendalian penyakit menular seksual ini
adalah dengan meningkatkan ke amanan kontak sekse dengan menggunakan upaya
pencegahan.
6. Pengobatan
gonorrhea
Gonorhea
biasanya diobati dengan suntikan tunggal seftriason intramuskuler (melalui otot)
atau dengan pemberian antibiotik per-oral (melalui mulut) selama 1 minggu
(biasanya diberikan doksisiklin).
a.
Sefalosporing
Beberapa
sefalosporing generasi ke tiga seperti seftriakson dosis 125 mg atau 250 mg i.m, dan sefiksin 400 mg per oaral dosis
tunggal menunjukkan efektifitas menunjukan dalam pengobatan gonorhea tanpa
komplikasi dan memberi angka kesembuhan lebih dari 95%. Sefiksin memiliki
kelebihan karena di samping efektif terhadap galur penicilinase producing
neiseria gonorhea juga dapat diberikan per oral.
Kemanjuran
pengobatan sefriakson terhadap gonorhea telah terbukti.disini terdapat hubungan
yang kuat antara konsentrasi hambat minimum penisilin dan sefalosforing. Selain
untuk pengobatan gonorhea ano-genital tanpa komplikasi, pemberian seftriakson
dosis tunggal juga efektif untuk oftalmia nenonatorum, konjungtifitis dan
infeksi faring yang disebab oleh gonokokus.
b.
Penisilin
Yang
efektif ialah penisilin G prokain aqua.
Dosis 3-4, 8 juta unit + 1 gr probenesid. Obat tersebut dapat menutupi gejala
sifilis. Kontra indikasinya ialah alergi penisilin.
c.
Ampisilin dan amoksisilin
Ampisilin
dosisinya adalah 3,5 gr + 1 gr probenesid, amoksisilin 3 gr + 1 gr probenesid.
Suntikan ampisilin tidak di anjurkan. Kontra indikasinya adalah alergi
penisilin.
d.
Spektinomisin
Dosis
adalah 2 gr baik untuk penderita yang alergi penisilin, dan yang mengalami
kegagalan pengobatan dengan penisilin
e.
Kanamisin
Dosisnya
adalah 2 gr kebaikan obat ini sama dengan spektinomisin. Kontra indikasinya
adalah kehamilan
f.
Tiamfenikol
Dosisnya
adalah 2,5-3,5 gr, secara oral. Tidak di anjurkan pemakaian pada kehamilan.
g.
Kuinolon
Dari
golongan kuinolon, obat yang menjadi pilihan adalah ofloksasin 400 mg,
siprofloksasin 250-500 mg dan norfloksasin 800 mg secara oral.
B. Konsep
Dasar Keperawatan
1. Pengkajian
Pada
pengkajian anamnesis, infeksi gonococcal 1,5 kali lebiih sering terjadi pada
pria di bandingkan pada wanita. Infeksi gonococcal tingkat lebih tinggi terjadi
pada pria yang melakukan kontak seksual dengan pria.Dalam melakukan pengkajian
pada semua pasien dengan PMS, hasilnya harus mencakup riwayat penyakit menular
seksual (termasuk HIV dan hepatitis virus) dan jenis kontrasepsi yang di
gunakan.Pada wanita, sejarah juga harus mencakup tanggal periode menstruasi
terakhir dan rincian paritas, termasuk riwayat kehamilan ektopik.
a.
Pada pria
1) Urethritis.
Keluhan subjektif berupa rasa gatal, panas dibagian distal uretra di sekitar orifisium
uretra eksternum, kemudian disusul dysuria, polakisuria, keluar duh tubuh dari
ujung uretra yang kadang disertai darah, dan disertai perasaan nyeri pada waktu
ereksi. Pada pemeriksaan tampak orifisium uretra eksternum merah dan edema.
Tampak pula pembesaran kelenjar getah bening inguinal unilateral atau
bilateral.
2) Prostatitis.
Prostatitis deitandai dengan perasaan tidak enak pada daerah perineum dan
suprakubis, malaise, demam, nyeri BAK, sampai hematuria, spasme otot uretra
sehingga terjadi retensi urine, tenesmus ani, sulit BAB dan obstipasi.
3) Epididymitis.
Faktor yang memengaruhi keadaan ini antara lain ialah irigasi yang terlalu
sering dilakukan, cairan irrigator terlalu panas atau terlalu pekat,
instrumentasi yang berlebihan. Epididymitis dan tali spermatika membengkak dan
terasa panas, sama hal dengan testis sehingga menyerupai hidrokel sekunder.
Pada penekanan terasa nyeri sekali. Bila mengenai kedua epididymis dapat
mengakibatkan sterilitas.
b.
Pada wanita
1) Urethritis.
Gejala utama ialah dysuria, terkadang polyuria. Pada pemeriksaan di dapatkan
orifisium uretra eksternum tampak merah, edematosa, dan ada secret mukopurulen
2) Servisitis.
Dapat asimptomatik terkadang menimbulkan rasa nyeri pada punggung bawah. Pada
pemerksaan serviks tampak merah dengan erosi dan secret mukopurulen. Duh tubuh
akan terlihat lebih banyak, bila terjadi servisitis akut atau disertai
vaginitis yang disebabkan oleh trichomonas vaginalis
3) Bartholinitis.
Labium mayor pada sisi yang terkena membengkak, ,merah, dan nyeri tekan. Kelenjar
bartholin membengkak, terasa nyeri sekali bila penderita berjalan, dan
penderita sukar duduk. Bila saluran kelenjar tersumbat dapat timbul abses dan
dapat pecah melalui mukosa atau kulit.Apa bila tidak diobati dapat menjadi
rekuren atau menjadi kista.
4) Konjungtivitis.
Penyakit ini dapat terjadi pada bayi yang baru lahir dari ibu yang menderita
servisitis gonorhoe. Pada orang dewasa infeksi terjadi karena penularan pada
konjungtiva melalui tangan atau alat-alat. Keluhannya berupa fotofobi,
konjungtiva bengkak dan merah, serta keluar eksudat muko purulen. Bila tidak
diobati dapat berakibat terjadinya ulkus kornea, panophtalmitis, sampai timbul
kebutaan.
2. Diagnosis dan Intervensi Keperawatan
|
NO.
|
DIAGNOSIS
|
NOC
|
NIC
|
|
1.
|
Nyeri Akut b.d agen cedera fisik.
Definisi:
Pengalaman sensori dan emosional tidak
menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan actual atau potensial atau
yang digambarkan sebagai kerusakan; awitan yang tiba-tiba atau lambat dari
intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau
diprediksi
Batasan karaktersitik:
-
Skala nyeri 6
-
Perubahan posisi untuk
menghindari nyeri
-
Sikap melindungi area nyeri
-
Sikap tubuh melindungi
|
-
Tanda-tanda vital
-
Control nyeri
-
Pengetahuan:
Menejemen
nyeri
-
Status kenyamanan
Kriteria hasil :
-
Tanda-tanda vital dalam batasan
normal dengan skala target oucome dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke
skala 4
-
Melaporkan perubahan terhadap
gejala nyeri pada professional kesehatan dengan skala target outcome
dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke skala 4
-
Tanda dan gejala nyeri dengan
skala target oucome dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke skala 4
-
Kontrol terhadap gejala dengan
skala target oucome dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke skala 4
|
1. monitor
tanda-tanda vital
-
monitor tekanan darah, nadi,
suhu, dan status pernapasan denga tepat.
-
Monitor keberadaan dan kualitas
nadi
-
Monitor warna kulit suhu dan
kelembaban
2. Pengaturan
posisi
-
Tempatkan pasien di atas matras/
tempat tidur terapeutik.
-
Masukkan posisi tidur yang
diinginkan kedalam rencana perawatan jika tidak ada kontraindikasi
-
Posisikan pasien untuk mengurangi
dispnea(posisi semi fowler)
-
Balikkan tubuh pasien sesuai
dengan kondisi kulit.
3. Manajemen
Nyeri
-
Lakukan pengkajian nyeri
komprehensif yang meliputi lokasi, karakteristik Dll
-
Dorong pasien untuk mendiskusikan
pengalaman nyerinya, sesuai kebutuhan
-
Dorong pasien untuk memonitor
nyeri dan menangani nyerinya dengan tepat
-
Dukung istirahat/tidur yang
adekuat untuk membantu penurunan nyeri
-
Gunakan tindakan pengontrol nyeri
sebelum nyeri bertambah berat.
4. Manajemen
lingkungan : kenyamanan
-
Hindari gangguan yang tidak perlu
dan berikan waktu untuk istirahat
-
Ciptakan lingkungan yang tenang
dan mendukung
-
Berikan pilihan sedapat mungkin
untuk dapat melakukan kegiatan dan kunjungan sosial
-
Sesuaikan suhu ruangan yang
paling menyamankan individu
5. Pemberian
analgesic
-
Tentukan lokasi, karakteristik,
kualitas dan keparahan nyeri sebelum mengobatai pasien
-
Cek adanya riwayat alergi obat
-
Cek perintah pengobatan meliputi
obat, dosis, dan frekuensi obat analgesic yang di resepkan.
-
Berkan analgesic sesuai waktu
paaruhnya, terutama pada nyeri yang berat
-
Dokumentasikan respon terhadap
analgesic dan adanya efek samping
|
|
2.
|
Gangguan eiminasi urine b.d Infeksi
saluran kemih.
Definisi:
Disfungsi eliminasi urine
Batasan karakterisktik:
-
Dysuria
-
Retensi urine
-
Sering berkemih
-
Sakit saat berkemih
|
-
Eliminasi urine
-
Keparahan infeksi
Kriteria
hasil:
-
Pola eliminasi dengan skala
target oucome dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke skala 4
-
Sputum purulen dengan skala
target oucome dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke skala 4
|
1. bantuan
berkemih
-
pertimbangkan kemampuan dalam
rangka mengenal keinginan untuk BAK
-
lakukan pencatatan mengenai
spesifikasi kontinensia selama 3 hari untuk mendapatkan pola pengeluaran (urine)
-
tetapkan interval untuk jadwal
membantu berkemih, berdasarkan pada pola pengeluaran (urine)
-
tetapkan waktu untuk memulai dan
mengakhiri (berkemih) dalam jadwal bantuan berkemih jika tidak (berkemih)
dalam 24 jam
2. control
infeksi
-
bersihkan lingkungan dengan baik
setelah digunakan untuk setiap pasien
-
pastikan tehknik perawatan luka
yang tepat
-
ajarkan pasien dan anggota
keluarga mengenai bagaimana menghindari infeksi
-
ajarkan pasien dan keluarga
mengenai tanda dan gejala infeksi dan kapan harus melaporkannya kepada
penyedia perawatan kesehatan
3. perawatan
retensi urine.
-
Monitor intake dan output
-
Berikan waktu yang cukup untuk
pengosongan kandung kemih (10 menit)
-
Anjurkan pasien/keluarga untuk
mencatat urine output, sesuai kebutuhan
-
Berikan privasi dalam melakukan
eliminasi
4. Monitor
cairan
-
Tentukan jumlah dan jenis
intake/asupan cairan serta kebiasaan eliminasi
-
Monitor membrane mukosa, turgor
kulit, dan respon haus
-
Monitor warna, kuantitas, dan
berat jenis urine
-
Tentukan faktor-faktor resiko
yang mungkin menyebabkan ketidakseimbangan cairan
5. Manajemen
cairan
-
Jaga intake/asupan yang akurat
dan catat output pasien
-
Berikan cairan dengan tepat
-
Monitor status hidrasi
-
Berikan terapi IV seperi ynag di
tentukan.
|
|
3.
|
Kerusakan integritas kulit b.d
Imunodifisiensi
Definisi:
Kerusakan pada epidermis dan/atau
dermis
Batasan karakteristik:
-
Kerusakan integritas kulit
(adanya abses dan kemerahan)
|
-
Integritas jaringan: kulit dan
membrane mukosa
-
Penyembuhan luka : primer
-
Penyembuhan luka : sekunder
Kriteria hasil:
-
Perfusi jaringan dengan skala
target oucome dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke skala 4
-
Memperikirakan kondisi tepi luka
dengan skala target oucome dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke skala 4
-
Granulasi dengan skala target
oucome dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke skala 4
|
1. Pengecekan
kulit
-
Periksa kulit dan selaput lendir
terkait dengan adanya kemerahan, kehangatan ekstem, edema, dan drainase
-
Monitor kulit dan selaput lendir
terhadap area perubahan warna, memar dan pecar
-
Periksa pakaian yang terlalu
ketat
-
Lakukan langkah-langkah untuk
mencegah kerusakan lebih lanjut (misalnya, melapisi kasur, menjadwalkan
reposisi)
2. Irigasi
luka
-
Persiapan alat dan bahan yang
dibutuhkan disamping tempat tidur
-
Jelaskan tindakan kepada pasien
-
Lakukan cuci tangan
-
Pakai sarung tangan steril
-
Semprot luka dengan cairan secara
lembut sampai cairan irigasi dalam bengkok tampak jernih, pastikan ujung
spoit berada satu inci di atas luka dan irigasi dilakukan dari arah yang
sedikit ke area yang lebih terkontaminasi
3. Perawatan
Luka
-
Monitor karakteristik luka,
termasuk drainase, warna, ukuran dan bau.
-
Ukur luas luka yang sesuai
-
Anjurkan pasien dan keluarga pada
prosedur perawatan luka
-
Anjurkan pasien dan keluarga
untuk mengenal tanda dan gejala infeksi
4. Manajemen
Nutrisi
-
Tentukan status gizi pasien dan
kemampuan untuk memenuhi kebutuhan gizi
-
Identifikasi adanya alergi atau
intoleransi makanan yang dimiliki pasien
-
Tentukan jumlah kalori dan jenis
nutrisi yang dibutuhkan untuk memenuhi persyaratan gizi
|
|
4.
|
Risiko Infeksi.
dengan faktor resiko:
-
Gangguan integritas
kulit,imunosupresi, kurang pengetahuan, untuk menghindari pemajanan patogen
|
-
Status imunitas
-
Kontrol risiko: penyakit menular
seksual
Kritera
hasil:
-
Integritas kulit dengan skala
target oucome dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke skala 4
-
Mengidentifikasi faktor risiko
penyakit menular seksual dengan skala target oucome dipertahankan pada skala
2 ditingkatkan ke skala 4
|
1. Pengecekan
kulit
-
Periksa kulit dan selaput lendir
terkait dengan adanya kemerahan, kehangatan ekstem, edema, dan drainase
-
Monitor kulit dan selaput lendir
terhadap area perubahan warna, memar dan pecar
-
Periksa pakaian yang terlalu
ketat
-
Lakukan langkah-langkah untuk
mencegah kerusakan lebih lanjut (misalnya, melapisi kasur, menjadwalkan
reposisi)
2. Kontrol
infeksi
-
bersihkan lingkungan dengan baik
setelah digunakan untuk setiap pasien
-
pastikan tehknik perawatan luka
yang tepat
-
ajarkan pasien dan anggota
keluarga mengenai bagaimana menghindari infeksi
-
ajarkan pasien dan keluarga mengenai
tanda dan gejala infeksi dan kapan harus melaporkannya kepada penyedia
perawatan kesehatan
|
|
|
|
|
3. Pengajaran
: proses penyakit
-
Jelaskan tanda dan gejala yang
umum dari penyakit, sesuai kebutuhan
-
Kaji tingkat pengetahuan pasien terkait
dengan proses penyakit yang spesifik
-
Jelaskan komplikasi kronik yang
mungkin ada, sesuai kebutuhan.
-
Diskusikan perubahan gaya hidup
ynag mungkin di perlukan untuk mencegah komplikasi dimasa yang akan datang
dan/.atau mengontrol proses penyakot
4. Pengaturan
posisi
-
Berikan matras yang lembut
-
Dorong pasien untuk terlibat
dalam perubahan posisi
-
Jangan menempatkan pasien pada
posisi yang bisa meningkatkan nyeri
-
Tempatkan pasien dalam posisi
terapeutik yang sudah dirancang
5. Perawatan
luka
-
Monitor karakteristik luka,
termasuk drainase, warna, ukuran dan bau.
-
Ukur luas luka yang sesuai
-
Anjurkan pasien dan keluarga pada
prosedur perawatan luka
-
Anjurkan pasien dan keluarga
untuk mengenal tanda dan gejala infeksi
|
|
5.
|
Harga Diri rendah Situasional b.d gangguan
citra tubuh
Definisi:
Munculnya persepsi negative tentang
makna diri sebagai respons terhadap situasi saat ini
Batasan karakteristik:
-
Ungkapan negative tentang diri
-
Meremehkan kemampuan menghadapi
situasi
-
Tantangan situasi terhadap harga
diri
|
-
Harga diri
-
Citra tubuh
-
Koping
-
Keseimbangan gaya hidup
Kriteria hasil:
-
Verbalisasi penerimaan diri
dengan skala target oucome dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke skala 4
-
Deskipsi bagian tubuh yang
terkena dampak dengan skala target oucome dipertahankan pada skala 2
ditingkatkan ke skala 4
-
Mengidentifikasi pola koping yang
efektif dengan skala target oucome dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke
skala 4
-
Mengenali kebutuhan untuk
menyeimbangkan aktivitas-aktivitas hidup dengan skala target oucome
dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke skala 4
|
1. Peningkatan
citra tubuh
-
Tentukan presefsi pasien dan
keluarga terkait dengan perubahan citra tubuh dengan realitas
-
Tentukan apakah citra tubuh
berkontribusi pad peningkatan isolasi sosial
-
Identifikasi kelompok pendukung
yang tersedia bagi pasien
-
Ajarkan untuk melihat pentingnya
respon mereka terhadap perubahan tubuh dan penyesuaian dimasa depan dangan
cara yang tepat
2.
Peningkatan koping
-
Bantu pasien dalam
mengidentifikasi tujuan jangka pendek dan jangka panjang yang tepat
-
Gunakan pendekatan yang tenang
dan berikan jaminan
-
Berikan penilain mengenai
pemahaman pasien terhadap proses penyakit
-
Cari jalan untuk memahami presfektif
pasien terhadap situasi yang penug stress
3. Peningkatan
harga diri
-
Monitor pernyataan pasien
mengenai harga diri
-
Dukung pasien untuk
mengidentifikasi kekuatan
-
Bantu pasien untuk menemukan
penerimaan diri
-
Buat pernyataan positif
mengenai pasien
4.
Dukungan emosional
-
Diskusikan dengan pasien mengenai
pengalaman emosinya
-
Buat pernyataan yang mendukung
dan ber enpati
-
Rangkul atau sentuh pasien dengan
penuh dukungan
-
Bantu pasien untuk mengenali
perasaannya seperti adanya cemas, marah atau sedih
-
Diskusikan diskuensi dari tidak
mengatasi perasaan bersalah dan malu
|
|
6.
|
Ansietas berhubungan dengan ancaman pada status terkini
Definisi :
Perasaan tidak nyaman atau
kekhawatiran yang samar disertai respons otonom
-gelisah
-Perasaan tidak adekuat
- Kesedihan yang mendalam
- Takut
- mengespresikan kekawatiran karna
perubahan dalam peristiwa hidup
|
-
Tingkat kecemasan
-
Tingkat rasa takut
-
Penerimaan status kesehatan
-
Status kenyamanan
Kriteria hasil:
-
Perasaan gelisah dengan skala
target oucome dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke skala 4
-
Distress dengan skala target
oucome dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke skala 4
-
Mengenali realita situasi
kesehatan
-
Kesejahteraan fisik dengan skala
target oucome dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke skala 4
|
1. pengurangan
kecemasan
-
gunakan pendekatan yang tenang
dan menyakinkan
-
kaji untuk tanda verbal dan non
verbal kecemasan
-
bantu klien mengidentifikasi
situasi yang memicu kecemasan
-
dukung penggunaan mekanisme
koping yang sesuai
2.
terapi relaksasi
-
gambarkan rasionalisai dan manfaat
relaksasi serta relaksasi yang tersedia
-
uji penurunan tingkat energy saat
ini, ketidak mampuan konsentrasi, atau gejala lain yang mengiringi yang
mungkin mempengaruhi kemampuan kognisi untuk berfokokus pada teknik relaksasi
-
dapatkan perilaku yang menenjukan
terjadinya relaksasi, misalnya bernafas dalam, menguap, pernafasan perut,
atau bayangan yang menenangkan
-
evaluasi dan dokumentasikan
respon terhadap terapi relaksasi
3. dukungan
emosional
-
Diskusikan dengan pasien mengenai
pengalaman emosinya
-
Buat pernyataan yang mendukung
dan ber enpati
-
Rangkul atau sentuh pasien dengan
penuh dukungan
-
Bantu pasien untuk mengenali
perasaannya seperti adanya cemas, marah atau sedih
-
Diskusikan diskuensi dari tidak
mengatasi perasaan bersalah dan malu
4.
Fasilitasi kunjungan
-
Kaji dan catat ke inginan pasien
terkait kunjungan
-
Siapkan lingkungan yang nyaman
untuk adanya kunjungan
-
Dukung anggota keluarga untuk
menyentu dan berkomunikasi dengan pasien
-
Monitor respon pasien saat
kunjungan keluarga
|
DAFTAR PUSTAKA
Bulechek G.M, Butcher H.K,
Dochterman J.M, Wagner C.M. 2013. Nursing Interventions Classification (NIC). Singapura: Elsevier Inc.
Herdman H.T (Eds), Kamitsuru S
(Eds). 2015. NANDA Interntional Inc. Diagnosis
Keperawatan: Definisi & Klasifikasi 2015-2017. Edisi 10.Jakarta: Penerbit Bukun Kedokteran
Muttaqin A, Sari K.2011. Asuhan
Keperawatan Sistem Integumen. Jakarta: Salemba Medika
Moorhead S, Johnson M, Maas M.L,
Swanson E. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC). Singapura: Elsevier Inc.
Susanto R.C, Ari GA.M.2013. Penyakit
Kulit dan Kelamin. Yogyakarta: Nuha Medika
Komentar
Posting Komentar