Asuhan Keperawatan Gonorhoe



GONORHOE
A.      Konsep Dasar Medis
1.      Pengertian
Gonorhoe adalah infeksi menular seksual pada permukaan selaput lendir di sebabkan oleh mikroorganisme Neisseria gonorhoeae.
Gonorhoe adalah penyakit menular seksual yang di sebabkan oleh bakteri Neisseria gonorhoeae yang meninfeksi lapisan dalam saluran kandung kemih, leher Rahim, rectum, tenggorokan, serta bagian putih mata. Penyakit gonorhoe ini dapat menyebar melalui aliran darah ke bagian tubuh lainnya terutama pada kulit dan persendian. Bila penyakit gonorhoe ini menyerang wanita, maka wanita tersebut bisa merasakan nyeri panggul serta gangguan reproduksi. Penyakit gonorhoe ini tidak hanya menyerang pria dan wanita dewasa, namun bayi yang baru lahir, sekalipun bisa terinfeksi gonorhoe dari ibunya bila selama proses kelahiran terjadi pembengkakan pada kedua kelopak matanya dan mengeluarkan nanah. Bila tidak segera di tangani dan diobati, bisa menyebabkan kebutaan pada bayinya.
2.      Tanda dan gejala gonorhoe
a.       Pada pria, gejala awal biasanya timbul dalam waktu 2 sampai 7 hari setelah terinfeksi
b.      Gejalanya berawal sebagai rasa tidak enak pada uretra, yang beberapa jam kemudian diikuti oleh nyeri ketika berkemih dan keluarnya nanah dari penis.
c.       Penderita sering berkemih dan merasakan desakan untuk berkemih, yang semakin memburuk ketika penyakit menyebar ke uretra bagian atas. Lubang penis tampak merah dan membengkak
d.      Pada wanita, gejala awal bisa timbul dalam waktu 7 sampai 21 hari setelah terinfeksi
e.       Penderita wanita sering kali tidak menunjukan gejala selama beberapa minggu atau bulan, dan di ketahui menderita penyakit ini hanya setelah mitra seksualnya tertular
f.       Jika timbul gejala, biasanya bersifat ringan. Tetapi beberapa penderita menunjukan gejala yang berat, seperti desakan untuk berkemih, nyeri ketika berkemih, keluarnya cairan dari vagina dan demam.
g.      Infeksi bisa menyerang leher Rahim, Rahim, saluran telur, indung telur, uretra dan rectum., menyebabkan nyeri pinggul yang dalam atau nyeri ketika melakukan hubungan seksual
h.      Nanah yang keluar bisa berasal dari leher Rahim, uretra atau kelenjar di sekitar lubang vagina
i.        Wanita dan pria homoseksual yang melakukan hubungan seksual melalui anus (lubang dubur) bisa menderita gonorhoe pada rektumnya.
j.        Penderita merasakan tidak nyaman disekitar anusnya dan dari rektumnya keluar cairan. Daerah sekitar anus tampak merah dan kasar, tinjanya terbungkus oleh lendir dan nanah.
k.      Pada pemeriksaan dengan anaskop akan tampak lendir da cairan di dinding rectum penderita.
l.        Melakukan hubungan seksual melalui mulut (oral seks) dengan seorang penderita gonorhoe bisa menyebabkan gonorhoe pada tenggorokan (faringitis gonokokal).
m.    Biasanya infeksi ini tidak menimbulkan gejala, tetapi kadang menyebabkan nyeri tenggorokan dan gangguan menelan
n.      Jika cairan yang terinfeksi mengenai mata bisa terjadi infeksi mata luar (konjungtivitis gonorhoe)
o.      Bayi baru lahir bisa terinfeksi oleh gonorhoe dari ibunya selama proses persalinan, sehingga terjadi pembengkakan pada kedua kelopak matanya dan dari matanya keluar nanah
p.      Pada dewasa, bisa terjadi gejala yang sama, tetapi sering kali hanya satu mata yang terkena
q.      Jika infeksi ini tidak diobati bisa terjadi kebutaan
r.        Pada pria, akan keluar nanah dari saluran kencing dan rasanya sangat panas seperti terbakar.
s.       Pada wanita, infeksi dapat terjadi pada saluran kencing, vagina ataupun serviks
t.        Wanita juga bisa merasakan nyeri perut yang sangat hebat
u.      Bertambahnya cairan yang keluar dari vagina
v.      Ujung biah zakar berwarna merah dan membengkak
w.    Merasakan sakit yang luar biasa saat buang air kecil
x.      Air kencing berwarna kuning kehijauan.


3.      Patofisiologi  dan pathogenesis
Neisseria gonorhoeae adalah bakteri gram negative yang di tularkan hampir semua kontak seksual bakteri secara langsung menginfeksi uretra, endorserviks, saluran anus, konjungtiva dan faring. Infeksi dapat meluas dan melibatkan prostat,  vasdeferent, vesikuar seminalis, epididymis, serta testis pada pria, endometrium, tuba falopi dan ovarium pada wanita. Komplikasi lebih lanjut adalah dermatitis, artritis, endocarditis, miokarditis, meningitis dan hepatitis.
Pada pria akan timbul gejala-gejala dan tanda-tanda urethritis dalam waktu 2-5 hari sampai 1 bulan. Tanda pertama adalah secret uretra purelen berwana kuning atau kuning kehijauan. Pada pria tidak serkumsisi dapat terjadi balanopostitis. Sehingga timbul secret dari bawah prepesium. Kompikasi balanopostitis adalah akibat dari peradangan dan edema pada glans. Kurang dari 5% pria dengan uretritis gonokkok yang tidak berkompilkasi menjadi asimtomatik. Jika tidak di obati dalam waktu 10-14 hari, infeksi akan naik dari uretra anterior ke uretra posterior. Dysuria menjadi bertamba berat dan terjadi malaise, sakit kepala, serta linfadenotapi regional.Infeksi yang terus berlanjut menyebabkan prostatitis, epididymitis, dan sistitis.
Masa inkubasi pada wanita berlangsung sedikitnya 2 minggu. Tempat peimer dari infeksi adalah endoserviks, dengan infeksi uretra pada 70-90% kasus. Urethritis primer tnpa melibatkan serviks jarang terjadi pada wanita, tetapi dapat terjadi pada mereka yang telah menjalani histrektomi total.  Lebih dari separuh wanita yang terinfeksi gonorhoe tidak mempunyai gejala, atau kalaupun ada hanya gejala ringan yang sering kali di abaikan, seperti secret vagina, disuria, sering berkemih, sakit punggung belakang, serta nyeri abdomen dan panggul. Pada pemeriksaan, serviks tampak rapuh dan bengkak, sering disertai secret purulen atau mukopurulen. Kelenjer bartholini mungkin terkena sehingga dapat terbentuk abses. Mukosa rectum dapat terinfeksi pada pria dan wanita sebagai akibat otoinokulasi atau hubungan seksual melalui anus. Infeksi para faring adalah akibat kontak seksual orogenital. Konjungtivitis gonokok terjadi melalui kontaminasi langsung pada mata melalui jari atau handuk. Neonates mendapat konjungtivitis gonokok pada persalinan saat melalui jalan lahir yang terinfeksi.
4.      Komplikasi gonorrhea
a.         Infeksi kadang menyebar melalui aliran darah ke satu atau beberapa sendi, dimana sendi menjadi bengkak, dan sangat nyeri, sehingga pergerakannya menjadi terbatas.
b.        Infeksi melalui aliran darah juga bisa menyebabkan timbulnya bintik-bintik merah berisi nanah di kulit, demam, rasa tidak enak badan atau nyeri di beberapa sendi yang berpindah dari satu sendi ke sendi lainnya (sindroma atritisdermatiti)
c.         Bisa terjadi infeksi jantung(endokarditis)
d.        Infeksi pembungkus hati (perihepatitis) bisa menyebabkan nyeri yang menyerupai kelainan kandung enpedu.
e.         Kompikasi yang terjadi bisa di atasi dan jarang berakibat fatal, tetapi masa penyembuhan untuk atritis atau endocarditis berlangsung lambat.
5.      Pencegahan gonorhea
a.         Tidak melakukan hubungan seksual baik vaginal, oral dan anal dengan orang yang terinfeksi
b.        Pemakaian kondom dapat mengurangi tetapi tidak dapat menghilangkan sama sekali risiko penularan penyakit ini
c.         Hindari hubungan seksual sampai pengobatan anti biotik selesai
d.        Sarankan juga pasangan seksual kita untuk diperiksa guna mencega infeksi lebih jauh dan mencegah penularan
e.         Wanita tunasusila agar selalu memeriksakan dirinya secara teratur, sehingga jika terkena infeksi dapat segera di obati dengan benar
f.         Pengendalian penyakit menular seksual ini adalah dengan meningkatkan ke amanan kontak sekse dengan menggunakan upaya pencegahan.
6.      Pengobatan gonorrhea
Gonorhea biasanya diobati dengan suntikan tunggal seftriason intramuskuler (melalui otot) atau dengan pemberian antibiotik per-oral (melalui mulut) selama 1 minggu (biasanya diberikan doksisiklin).
a.         Sefalosporing
Beberapa sefalosporing generasi ke tiga seperti seftriakson dosis 125 mg atau 250  mg i.m, dan sefiksin 400 mg per oaral dosis tunggal menunjukkan efektifitas menunjukan dalam pengobatan gonorhea tanpa komplikasi dan memberi angka kesembuhan lebih dari 95%. Sefiksin memiliki kelebihan karena di samping efektif terhadap galur penicilinase producing neiseria gonorhea juga dapat diberikan per oral.
Kemanjuran pengobatan sefriakson terhadap gonorhea telah terbukti.disini terdapat hubungan yang kuat antara konsentrasi hambat minimum penisilin dan sefalosforing. Selain untuk pengobatan gonorhea ano-genital tanpa komplikasi, pemberian seftriakson dosis tunggal juga efektif untuk oftalmia nenonatorum, konjungtifitis dan infeksi faring yang disebab oleh gonokokus.
b.        Penisilin
Yang efektif ialah penisilin  G prokain aqua. Dosis 3-4, 8 juta unit + 1 gr probenesid. Obat tersebut dapat menutupi gejala sifilis. Kontra indikasinya ialah alergi penisilin.
c.         Ampisilin dan amoksisilin
Ampisilin dosisinya adalah 3,5 gr + 1 gr probenesid, amoksisilin 3 gr + 1 gr probenesid. Suntikan ampisilin tidak di anjurkan. Kontra indikasinya adalah alergi penisilin.
d.        Spektinomisin
Dosis adalah 2 gr baik untuk penderita yang alergi penisilin, dan yang mengalami kegagalan pengobatan dengan penisilin
e.         Kanamisin
Dosisnya adalah 2 gr kebaikan obat ini sama dengan spektinomisin. Kontra indikasinya adalah kehamilan
f.         Tiamfenikol
Dosisnya adalah 2,5-3,5 gr, secara oral. Tidak di anjurkan pemakaian pada kehamilan.
g.        Kuinolon
Dari golongan kuinolon, obat yang menjadi pilihan adalah ofloksasin 400 mg, siprofloksasin 250-500 mg dan norfloksasin 800 mg secara oral.













B.       Konsep Dasar Keperawatan
1.      Pengkajian
Pada pengkajian anamnesis, infeksi gonococcal 1,5 kali lebiih sering terjadi pada pria di bandingkan pada wanita. Infeksi gonococcal tingkat lebih tinggi terjadi pada pria yang melakukan kontak seksual dengan pria.Dalam melakukan pengkajian pada semua pasien dengan PMS, hasilnya harus mencakup riwayat penyakit menular seksual (termasuk HIV dan hepatitis virus) dan jenis kontrasepsi yang di gunakan.Pada wanita, sejarah juga harus mencakup tanggal periode menstruasi terakhir dan rincian paritas, termasuk riwayat kehamilan ektopik.
a.         Pada pria
1)      Urethritis. Keluhan subjektif berupa rasa gatal, panas dibagian distal uretra di sekitar orifisium uretra eksternum, kemudian disusul dysuria, polakisuria, keluar duh tubuh dari ujung uretra yang kadang disertai darah, dan disertai perasaan nyeri pada waktu ereksi. Pada pemeriksaan tampak orifisium uretra eksternum merah dan edema. Tampak pula pembesaran kelenjar getah bening inguinal unilateral atau bilateral.
2)      Prostatitis. Prostatitis deitandai dengan perasaan tidak enak pada daerah perineum dan suprakubis, malaise, demam, nyeri BAK, sampai hematuria, spasme otot uretra sehingga terjadi retensi urine, tenesmus ani, sulit BAB dan obstipasi.
3)      Epididymitis. Faktor yang memengaruhi keadaan ini antara lain ialah irigasi yang terlalu sering dilakukan, cairan irrigator terlalu panas atau terlalu pekat, instrumentasi yang berlebihan. Epididymitis dan tali spermatika membengkak dan terasa panas, sama hal dengan testis sehingga menyerupai hidrokel sekunder. Pada penekanan terasa nyeri sekali. Bila mengenai kedua epididymis dapat mengakibatkan sterilitas.
b.        Pada wanita
1)      Urethritis. Gejala utama ialah dysuria, terkadang polyuria. Pada pemeriksaan di dapatkan orifisium uretra eksternum tampak merah, edematosa, dan ada secret mukopurulen
2)      Servisitis. Dapat asimptomatik terkadang menimbulkan rasa nyeri pada punggung bawah. Pada pemerksaan serviks tampak merah dengan erosi dan secret mukopurulen. Duh tubuh akan terlihat lebih banyak, bila terjadi servisitis akut atau disertai vaginitis yang disebabkan oleh trichomonas vaginalis
3)      Bartholinitis. Labium mayor pada sisi yang terkena membengkak, ,merah, dan nyeri tekan. Kelenjar bartholin membengkak, terasa nyeri sekali bila penderita berjalan, dan penderita sukar duduk. Bila saluran kelenjar tersumbat dapat timbul abses dan dapat pecah melalui mukosa atau kulit.Apa bila tidak diobati dapat menjadi rekuren atau menjadi kista.
4)      Konjungtivitis. Penyakit ini dapat terjadi pada bayi yang baru lahir dari ibu yang menderita servisitis gonorhoe. Pada orang dewasa infeksi terjadi karena penularan pada konjungtiva melalui tangan atau alat-alat. Keluhannya berupa fotofobi, konjungtiva bengkak dan merah, serta keluar eksudat muko purulen. Bila tidak diobati dapat berakibat terjadinya ulkus kornea, panophtalmitis, sampai timbul kebutaan.

2.       Diagnosis dan Intervensi Keperawatan
NO.
DIAGNOSIS
NOC
NIC
1.       
Nyeri Akut b.d agen cedera fisik.
Definisi:
Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan actual atau potensial atau yang digambarkan sebagai kerusakan; awitan yang tiba-tiba atau lambat dari intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi
Batasan karaktersitik:
-          Skala nyeri 6
-          Perubahan posisi untuk menghindari nyeri
-          Sikap melindungi area nyeri
-          Sikap tubuh melindungi
-          Tanda-tanda vital
-          Control nyeri
-          Pengetahuan:
Menejemen nyeri
-            Status kenyamanan
Kriteria hasil :
-          Tanda-tanda vital dalam batasan normal dengan skala target oucome dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke skala 4
-          Melaporkan perubahan terhadap gejala nyeri pada professional kesehatan dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke skala 4
-          Tanda dan gejala nyeri dengan skala target oucome dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke skala 4
-          Kontrol terhadap gejala dengan skala target oucome dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke skala 4
1.      monitor tanda-tanda vital
-          monitor tekanan darah, nadi, suhu, dan status pernapasan denga tepat.
-          Monitor keberadaan dan kualitas nadi
-          Monitor warna kulit suhu dan kelembaban
2.      Pengaturan posisi
-          Tempatkan pasien di atas matras/ tempat tidur terapeutik.
-          Masukkan posisi tidur yang diinginkan kedalam rencana perawatan jika tidak ada kontraindikasi
-          Posisikan pasien untuk mengurangi dispnea(posisi semi fowler)
-          Balikkan tubuh pasien sesuai dengan kondisi kulit.
3.      Manajemen Nyeri
-          Lakukan pengkajian nyeri komprehensif yang meliputi lokasi, karakteristik Dll
-          Dorong pasien untuk mendiskusikan pengalaman nyerinya, sesuai kebutuhan
-          Dorong pasien untuk memonitor nyeri dan menangani nyerinya dengan tepat
-          Dukung istirahat/tidur yang adekuat untuk membantu penurunan nyeri
-          Gunakan tindakan pengontrol nyeri sebelum nyeri bertambah berat.
4.      Manajemen lingkungan : kenyamanan
-          Hindari gangguan yang tidak perlu dan berikan waktu untuk istirahat
-          Ciptakan lingkungan yang tenang dan mendukung
-          Berikan pilihan sedapat mungkin untuk dapat melakukan kegiatan dan kunjungan sosial
-          Sesuaikan suhu ruangan yang paling menyamankan individu
5.      Pemberian analgesic
-          Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas dan keparahan nyeri sebelum mengobatai pasien
-          Cek adanya riwayat alergi obat
-          Cek perintah pengobatan meliputi obat, dosis, dan frekuensi obat analgesic yang di resepkan.
-          Berkan analgesic sesuai waktu paaruhnya, terutama pada nyeri yang berat
-          Dokumentasikan respon terhadap analgesic dan adanya efek samping
2.
Gangguan eiminasi urine b.d Infeksi saluran kemih.
Definisi:
Disfungsi eliminasi urine
Batasan karakterisktik:
-          Dysuria
-          Retensi urine
-          Sering berkemih
-          Sakit saat berkemih
-          Eliminasi urine
-          Keparahan infeksi
Kriteria hasil:
-        Pola eliminasi dengan skala target oucome dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke skala 4
-        Sputum purulen dengan skala target oucome dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke skala 4

1.      bantuan berkemih
-          pertimbangkan kemampuan dalam rangka mengenal keinginan untuk BAK
-          lakukan pencatatan mengenai spesifikasi kontinensia selama 3 hari untuk mendapatkan pola pengeluaran (urine)
-          tetapkan interval untuk jadwal membantu berkemih, berdasarkan pada pola pengeluaran (urine)
-          tetapkan waktu untuk memulai dan mengakhiri (berkemih) dalam jadwal bantuan berkemih jika tidak (berkemih) dalam 24 jam
2.      control infeksi
-          bersihkan lingkungan dengan baik setelah digunakan untuk setiap pasien
-          pastikan tehknik perawatan luka yang tepat
-          ajarkan pasien dan anggota keluarga mengenai bagaimana menghindari infeksi
-          ajarkan pasien dan keluarga mengenai tanda dan gejala infeksi dan kapan harus melaporkannya kepada penyedia perawatan kesehatan
3.      perawatan retensi urine.
-          Monitor intake dan output
-          Berikan waktu yang cukup untuk pengosongan kandung kemih (10 menit)
-          Anjurkan pasien/keluarga untuk mencatat urine output, sesuai kebutuhan
-          Berikan privasi dalam melakukan eliminasi
4.      Monitor cairan
-          Tentukan jumlah dan jenis intake/asupan cairan serta kebiasaan eliminasi
-          Monitor membrane mukosa, turgor kulit, dan respon haus
-          Monitor warna, kuantitas, dan berat jenis urine
-          Tentukan faktor-faktor resiko yang mungkin menyebabkan ketidakseimbangan cairan
5.      Manajemen cairan
-          Jaga intake/asupan yang akurat dan catat output pasien
-          Berikan cairan dengan tepat
-          Monitor status hidrasi
-          Berikan terapi IV seperi ynag di tentukan.
3.
Kerusakan integritas kulit b.d Imunodifisiensi
Definisi:
Kerusakan pada epidermis dan/atau dermis
Batasan karakteristik:
-          Kerusakan integritas kulit (adanya abses dan kemerahan)
-          Integritas jaringan: kulit dan membrane mukosa
-          Penyembuhan luka : primer
-          Penyembuhan luka : sekunder
Kriteria hasil:
-            Perfusi jaringan dengan skala target oucome dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke skala 4
-            Memperikirakan kondisi tepi luka dengan skala target oucome dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke skala 4
-            Granulasi dengan skala target oucome dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke skala 4
1.      Pengecekan kulit
-          Periksa kulit dan selaput lendir terkait dengan adanya kemerahan, kehangatan ekstem, edema, dan drainase
-          Monitor kulit dan selaput lendir terhadap area perubahan warna, memar dan pecar
-          Periksa pakaian yang terlalu ketat
-          Lakukan langkah-langkah untuk mencegah kerusakan lebih lanjut (misalnya, melapisi kasur, menjadwalkan reposisi)
2.      Irigasi luka
-          Persiapan alat dan bahan yang dibutuhkan disamping tempat tidur
-          Jelaskan tindakan kepada pasien
-          Lakukan cuci tangan
-          Pakai sarung tangan steril
-          Semprot luka dengan cairan secara lembut sampai cairan irigasi dalam bengkok tampak jernih, pastikan ujung spoit berada satu inci di atas luka dan irigasi dilakukan dari arah yang sedikit ke area yang lebih terkontaminasi
3.      Perawatan Luka
-          Monitor karakteristik luka, termasuk drainase, warna, ukuran dan bau.
-          Ukur luas luka yang sesuai
-          Anjurkan pasien dan keluarga pada prosedur perawatan luka
-          Anjurkan pasien dan keluarga untuk mengenal tanda dan gejala infeksi
4.      Manajemen Nutrisi
-          Tentukan status gizi pasien dan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan gizi
-          Identifikasi adanya alergi atau intoleransi makanan yang dimiliki pasien
-          Tentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi yang dibutuhkan untuk memenuhi persyaratan gizi
4.
Risiko Infeksi.
dengan faktor resiko:
-          Gangguan integritas kulit,imunosupresi, kurang pengetahuan, untuk menghindari pemajanan patogen
-          Status imunitas
-          Kontrol risiko: penyakit menular seksual
Kritera hasil:
-            Integritas kulit dengan skala target oucome dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke skala 4
-            Mengidentifikasi faktor risiko penyakit menular seksual dengan skala target oucome dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke skala 4
1.      Pengecekan kulit
-          Periksa kulit dan selaput lendir terkait dengan adanya kemerahan, kehangatan ekstem, edema, dan drainase
-          Monitor kulit dan selaput lendir terhadap area perubahan warna, memar dan pecar
-          Periksa pakaian yang terlalu ketat
-          Lakukan langkah-langkah untuk mencegah kerusakan lebih lanjut (misalnya, melapisi kasur, menjadwalkan reposisi)
2.      Kontrol infeksi
-          bersihkan lingkungan dengan baik setelah digunakan untuk setiap pasien
-          pastikan tehknik perawatan luka yang tepat
-          ajarkan pasien dan anggota keluarga mengenai bagaimana menghindari infeksi
-          ajarkan pasien dan keluarga mengenai tanda dan gejala infeksi dan kapan harus melaporkannya kepada penyedia perawatan kesehatan



3.    Pengajaran : proses penyakit
-          Jelaskan tanda dan gejala yang umum dari penyakit, sesuai kebutuhan
-          Kaji tingkat pengetahuan pasien terkait dengan proses penyakit yang spesifik
-          Jelaskan komplikasi kronik yang mungkin ada, sesuai kebutuhan.
-          Diskusikan perubahan gaya hidup ynag mungkin di perlukan untuk mencegah komplikasi dimasa yang akan datang dan/.atau mengontrol proses penyakot
4.      Pengaturan posisi
-          Berikan matras yang lembut
-          Dorong pasien untuk terlibat dalam perubahan posisi
-          Jangan menempatkan pasien pada posisi yang bisa meningkatkan nyeri
-          Tempatkan pasien dalam posisi terapeutik yang sudah dirancang
5.      Perawatan luka
-          Monitor karakteristik luka, termasuk drainase, warna, ukuran dan bau.
-          Ukur luas luka yang sesuai
-          Anjurkan pasien dan keluarga pada prosedur perawatan luka
-          Anjurkan pasien dan keluarga untuk mengenal tanda dan gejala infeksi
5.
Harga Diri rendah Situasional b.d gangguan citra tubuh
Definisi:
Munculnya persepsi negative tentang makna diri sebagai respons terhadap situasi saat ini
Batasan karakteristik:
-          Ungkapan negative tentang diri
-          Meremehkan kemampuan menghadapi situasi
-          Tantangan situasi terhadap harga diri
-          Harga diri
-          Citra tubuh
-          Koping
-          Keseimbangan gaya hidup
Kriteria hasil:
-            Verbalisasi penerimaan diri dengan skala target oucome dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke skala 4
-            Deskipsi bagian tubuh yang terkena dampak dengan skala target oucome dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke skala 4
-            Mengidentifikasi pola koping yang efektif dengan skala target oucome dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke skala 4
-            Mengenali kebutuhan untuk menyeimbangkan aktivitas-aktivitas hidup dengan skala target oucome dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke skala 4
1.      Peningkatan citra tubuh
-          Tentukan presefsi pasien dan keluarga terkait dengan perubahan citra tubuh dengan realitas
-          Tentukan apakah citra tubuh berkontribusi pad peningkatan isolasi sosial
-          Identifikasi kelompok pendukung yang tersedia bagi pasien
-          Ajarkan untuk melihat pentingnya respon mereka terhadap perubahan tubuh dan penyesuaian dimasa depan dangan cara yang tepat
2.             Peningkatan koping
-          Bantu pasien dalam mengidentifikasi tujuan jangka pendek dan jangka panjang yang tepat
-          Gunakan pendekatan yang tenang dan berikan jaminan
-          Berikan penilain mengenai pemahaman pasien terhadap proses penyakit
-          Cari jalan untuk memahami presfektif pasien terhadap situasi yang penug stress
3.      Peningkatan harga diri
-          Monitor pernyataan pasien mengenai harga diri
-          Dukung pasien untuk mengidentifikasi kekuatan 
-          Bantu pasien untuk menemukan penerimaan diri
-          Buat pernyataan positif mengenai  pasien
4.            Dukungan emosional
-          Diskusikan dengan pasien mengenai pengalaman emosinya
-          Buat pernyataan yang mendukung dan ber enpati
-          Rangkul atau sentuh pasien dengan penuh dukungan
-          Bantu pasien untuk mengenali perasaannya seperti adanya cemas, marah atau sedih
-          Diskusikan diskuensi dari tidak mengatasi perasaan bersalah dan malu
6.
Ansietas berhubungan dengan  ancaman pada status terkini
Definisi :
Perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar disertai respons otonom
Batasan karakteristik:
-gelisah
-Perasaan tidak adekuat
- Kesedihan yang mendalam
- Takut 
- mengespresikan kekawatiran karna perubahan dalam peristiwa hidup
-          Tingkat kecemasan
-          Tingkat rasa takut
-          Penerimaan status kesehatan
-          Status kenyamanan
Kriteria hasil:
-          Perasaan gelisah dengan skala target oucome dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke skala 4
-          Distress dengan skala target oucome dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke skala 4
-          Mengenali realita situasi kesehatan
-          Kesejahteraan fisik dengan skala target oucome dipertahankan pada skala 2 ditingkatkan ke skala 4
1.      pengurangan kecemasan
-          gunakan pendekatan yang tenang dan menyakinkan
-          kaji untuk tanda verbal dan non verbal kecemasan
-          bantu klien mengidentifikasi situasi yang memicu kecemasan
-          dukung penggunaan mekanisme koping yang sesuai
2.            terapi relaksasi
-          gambarkan rasionalisai dan manfaat relaksasi serta relaksasi yang tersedia
-          uji penurunan tingkat energy saat ini, ketidak mampuan konsentrasi, atau gejala lain yang mengiringi yang mungkin mempengaruhi kemampuan kognisi untuk berfokokus pada teknik relaksasi
-          dapatkan perilaku yang menenjukan terjadinya relaksasi, misalnya bernafas dalam, menguap, pernafasan perut, atau bayangan yang menenangkan
-          evaluasi dan dokumentasikan respon terhadap terapi relaksasi
3.      dukungan emosional

-          Diskusikan dengan pasien mengenai pengalaman emosinya
-          Buat pernyataan yang mendukung dan ber enpati
-          Rangkul atau sentuh pasien dengan penuh dukungan
-          Bantu pasien untuk mengenali perasaannya seperti adanya cemas, marah atau sedih
-          Diskusikan diskuensi dari tidak mengatasi perasaan bersalah dan malu
4.            Fasilitasi kunjungan
-          Kaji dan catat ke inginan pasien terkait kunjungan
-          Siapkan lingkungan yang nyaman untuk adanya kunjungan
-          Dukung anggota keluarga untuk menyentu dan berkomunikasi dengan pasien
-          Monitor respon pasien saat kunjungan keluarga



DAFTAR PUSTAKA
Bulechek G.M, Butcher H.K, Dochterman J.M, Wagner C.M2013. Nursing Interventions Classification (NIC). Singapura: Elsevier Inc.
Herdman H.T (Eds), Kamitsuru S (Eds). 2015. NANDA Interntional Inc. Diagnosis Keperawatan: Definisi & Klasifikasi 2015-2017. Edisi 10.Jakarta: Penerbit Bukun Kedokteran
Muttaqin A, Sari K.2011. Asuhan Keperawatan Sistem Integumen. Jakarta: Salemba Medika
Moorhead S, Johnson M, Maas M.L, Swanson E. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC). Singapura: Elsevier Inc.
Susanto R.C, Ari GA.M.2013. Penyakit Kulit dan Kelamin. Yogyakarta: Nuha Medika



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asuhan Keperawatan Laringitis

SAP Sindrom Nefrotik

Asuhan Keperawatan Hipoparatiroid