Asuhan Keperawatan Hiperparatiroid



BAB I
PENDAHULUAN
A.       Latar Belakang
Penderita dengan kelainan hormon paratiroid, tidak tampak jelas pada kehidupan sehari-hari. Kebanyakan pasien dengan kelainan hormon paratiroid mengalami gangguan dari metabolisme kalsium dan fosfat. Adapun penyakit yang disebabkan oleh kelainan hormon paratiroid yakni hipoparatiroid dan hiperparatiroid. Penyebab kelainan hormon paratiroid sendiri secara spesifik belum diketahui, namun penyebab yang biasa ditemukan yakni hiperplasia paratiroid, adenoma soliter dan karsinoma paratiroid. Parathormon yang meningkat menyebabkan resorpsi tulang, ekskresi ginjal menurun dan absorpsi kalsium oleh usus meningkat. Pada keadaan ini dapat menyebabkan peningkatan sekresi kalsium sehingga manifestasi klinis yang terjadi pada kerusakan pada area tulang dan ginjal.Prevalensi penyakit hipoparatiroid di Indonesia jarang ditemukan. Kira-kira 100 kasus dalam.
Setahun yang dapat diketahui, sedangkan di negara maju seperti Amerika Serikat penderita penyakit hipoparatiroid lebih banyak ditemukan, kurang lebih 1000 kasus dalam setahun. Pada Wanita mempunyai resiko untuk terkena hipoparatiroidisme lebih besar dari pria. Prevalensi penyakit hiperparatiroid di Indonesia kurang lebih 1000 orang tiap tahunnya. Wanita yang berumur 50 tahun keatas mempunyai resiko yang lebih besar 2 kali dari pria.
Di Amerika Serikat sekitar 100.000 orang diketahui terkena penyakit hiperparatiroid tiap tahun. Perbandingan wanita dan pria sekitar 2 banding 1. Pada wanita yang berumur 60 tahun keatas sekitar 2 dari 10.000 bisa terkena hiperparatiroidisme. Hiperparatiroidisme primer merupakan salah satu dari 2 penyebab tersering hiperkalsemia; penyebab yang lain adalah keganasan. Kelainan ini dapat terjadi pada semua usia tetapi yang tersering adalah pada dekade ke-6 dan wanita lebih serinbg 3 kali dibandingkan laki-laki. Insidensnya mencapai 1:500-1000. Bila timbul pada anak-anak harus dipikirkan kemungkinan endokrinopati genetik seperti neoplasia endokrin multipel tipe I dan II.
Kelenjar paratiroid berfungsi mensekresi parathormon (PTH), senyawa yang membantu memelihara keseimbangan dari kalsium dan phosphorus dalam tubuh. Oleh karena itu yang terpenting hormon paratiroid penting sekali dalam pengaturan kadar kalsium dalam tubuh sesorang. Dengan mengetahui fungsi dan komplikasi yang dapat terjadi pada kelainan atau gangguan pada kelenjar paratiroid ini maka perawat dianjurkan untuk lebih peka dan teliti dalam mengumpulkan data pengkajian awal dan menganalisa suatu respon tubuh pasien terhadap penyakit, sehingga kelainan pada kelenjar paratiroid tidak semakin berat.




B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian hiperparatiroid?
2.      Apa etiologi hiperparatiroid?
3.      Bagaimana patofisiologi hiperparatiroid?
4.      Bagaimana manifestasi klinik hiperparatiroid?
5.      Apa pemeriksaan diagnostik hiperparatiroid?
6.      Komplikasi apa saja yg bisa terjadi pada penderita hiperparatiroid?
7.      Bagaimana penatalaksanaan hiperparatiroid?
8.      Bagaimana konsep dasar asuhan keperawatan hiperparatiroid?
C.    Tujuan
1.      Memahami pengertian hiperparatiroid
2.      Mampu memahami etiologi hiperparatiroid
3.      Memahami patofisiologi hiperparatiroid
4.      Mampu memahami manifestasi klinik hiperparatiroid
5.      Mampu memahami pemeriksaan diagnosk hiperparatiroid
6.      Mampu memahami komplikasi hiperparatiroid
7.      Mampu memahami penatalaksanaan hiperparatiroid
8.      Mampu memahami konsep dasar asuhan keperawatan hiperparatiroid





D.   Manfaat Penulisan
1.      Bagi institusi pendidikan
a.       Dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam pembelajaran atau perkuliahan mengenai konsep dasar dan konsep keperawatan yang berhubungan  dengan penyakit Hernia Nukleus Pulposus
2.      Bagi profesi keperawatan
a.       Dapat menjadi penambah pengetahuan mengenai konsep dasar dan konsep keperawatan khususnya dalam melakukan praktik kesehatan serta dalam proses pembuatan ASKEP
3.      Bagi penulis
a.       Menambah wawasan dan pengetahuan tentang konsep dasar dan konsep keperawatan mengenai penyakit Hernia Nukleus Pulposus, serta dapat dijadikan sebagai panduan belajar dan dalam pembuatan asuhan keperawatan.









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.      Konsep dasar medis
1.         Definisi
Hiperparatiroidisme merupakan keadaan sekresi berlebihan hormone paratiroid dari satu atau lebih diantara empat kelenjar paratiroid.Hormone paratiroid meningkatkan resorpsi tulang dan hipersekresi hormone tersebut menyebabkan hiperkalasemia serta hipofostemia. Absorbsi kalsium melalui ginjal dan traktus GI akan meningkat. (Kowalak, Welsh,  2016)
2.         Etiologi
Hiperparatiroidisme dapat bersifat primer atau sekunder. Pada hiperparatiroidisme primer :
a.         Satu atau lebih kelenjar paratiroid membesar serta meningkatkan sekresi hormone paratiroid dan kadar kalsium serum, keadaan ini paling sering disebabkan oleh adenoma yang tunggal tetapi bisa juga merupakan komponen pada neoplasia endokrin multiple
Pada hiperparatiroidisme sekunder terdapat kelainan di luar kelenjar paratiroid yang menimbulkan hipokalsemia sehingga hormone paratiroid diproduksi secara berlebihan untuk mengimbanginya. Penyebab hiperparatiroidisme sekunder ini meliputi :
a.         Riketsia, defisiensi vitamin D, gagl ginjal kronis dan osteomalasia yang disebabkan oleh feniton (Kowalak, Welsh,  2016)
3.         Patofisiologi
Overproduksi hormone paratiroid oleh tumor atau jaringan yang mengalami hyperplasia akan meningkatkan absropsi kalsium dalam usus, mengurangi klirens kalsium mellaui ginjal, dan meningkatkan pelepasan kalsium dari tulang. Respons terhadap keadaan yang berlebihan ini bervariasi pada pasien karena alas an yang tidak diketahui.
Hipofosfatemia akan terjadi ketika hormone paratiroid yang berlebihan menghambat reabsorpsi fosfat dalam tubulus renal. Hipofosfatemia memperburuk keadaan hiperparatiroidisme dengan meningkatkan sensitivitas tulang terhadap hormone paratiroid. (Kowalak, Welsh,  2016)
4.         Manifestasi klinis
Tanda dan gejala hiperparatiroidisme primer terjadi karena hiperkalsemia dan secara khas terdapat pada beberapa system tubuh. Tanda dan gejala tersebut dapat meliputi :
a.       Poliuria, nefrokalsinosis, nokturia, polidipsia, dehidrasi, gejala uremia, kolik renal, nefrolitiasis dan insufisiensi renal
b.      Nyeri dan rasa pegal yang tidak jelas, artargia, pembengkakan local
c.       Nyeri punggung bawah yang kronis dan keadaan mudah fraktur akibat degenerasi tulang, nyeri tekan pada tulang, kondrokalsinosis, osteopenia serta osteoporosis, khususnya pada vertebra, erosi permukaan juksta-artikuler, fraktur subkondrium, sinovitis traumatika, dan pseudogout
d.      Pancreatitis yang menyebabkan nyeri epigastrium yang berat serta menetap dan menjalar hingga daerah punggung, ulkus peptikum yang menyebabkan nyeri abdomen, anoreksia, mual dan muntah
e.       Kelemahan dan atrofi otot khususnya pada tungkai
f.       Gangguan psikomotor dan kepribadian, ketidakstabilan emosi, depresi, daya piker yang lambat. Letargi, ataksia, psikosis yang nyata, stupor dan mungkin pula koma
g.      Pruritus yang disebabkan oleh klasifikasi ektopik pada kulit
h.      Nekrosis kulit, katarak, mikrotrombus kalsium pada paru-paru serta pancreas, anemia dan klasifikasi subkutan
Hiperparatiroidisme sekunder dapat menghasilkan gambaran ketidakseimbangan kalsium yang sama dengan deformitas skeletal pada tulang panjang dan gejala penyakit yang mendasari. (Kowalak, Welsh,  2016)
5.         Komplikasi
Komplikasi hiperparatiroidisme meliputi :
a.         Fraktur patologis
b.        Kerusakan renal
c.         Infeksi saluran kemih
d.        Hipertensi
e.         Aritmia jantung
f.         Hipersekresi insulin, penurunan sensitivitas insulin
g.        Pseudogout (Kowalak, Welsh,  2016)
6.         Interpretasi hasil tes
a.         Serum kalsium naik
b.        Serum PTH naik
c.         Serum fosfat rendah
d.        Urine kalsiu naik
e.         Adanya tumor paratiroid ditunjukkan dalam ultrasound
f.         Biopsi untuk tumor paratiroid (Digiulio, 2014)
7.         Penatalaksanaan
a.         Penanganan penyakit yang primer meliputi :
1)        Pembedahan untuk mengangkat adenoma atau mengangkat semua kelenjar paratiroid dengan menyisakan hanya satu kelenjar
2)        Terapi untuk mengurangi kadar kalsium, seperti pemberian infuse cairan secara paksa
3)        Pemberian natrium atau kalium fosfat er oral, penyuntikan kalsitonim subkutan, penyuntikan plikamisin IV
4)        Penyuntikan larutan magnesium dan fosfat atau pemberian natrium fosfat per oral atau enema retensi
b.        Penanganan penyakit yang sekunder meliputi :
1)        Vitamin D untuk mengoreksi penyebab hyperplasia paratiroid yang mendasari
2)        Terapi dialysis pada pasien gagal ginjal untuk mengurangi kadar fosfor
3)        Kelenjar yang membesar mungkin tidak bisa kembali kepada ukuran dan fungsi normal sekalipun kadar kalsium sudah terkontrol pada pasien hiperparatiroidisme sekunder yang kronis
4)        Untuk keadaan hiperkalsemia yang berat atau bagi pasien denga gejala yang berat, pemberian kalsitonin preparat yang bekerja cepat dilakukan bersama terapi hidrasi, pemberian pemidronat preparat yang bekerja lambat mungkin harus dimulai untuk memberikan efek jangka panjang.(Kowalak, Welsh,  2016)
B.       Konsep Dasar Keperawatan
1.      Pengkajian
a.    Data Demografi
Identitas pada klien yang harus diketahui diantaranya: nama, umur, agama, pendidikan, pekerjaan, suku/bangsa, alamat, jenis kelamin, status perkawinan, dan penanggung biaya.
b.   Riwayat Sakit dan Kesehatan
1)      Keluhan Utama : Sakit kepala, kelemahan, lethargi dan kelelahan otot. Gangguan pencernaan seperti mual, muntah, anoreksia, obstipasi, dan nyeri lambung yang akan disertai penurunan berat badan. Nyeri tulang dan sendi.
2)      Riwayat Penyakit Sekarang
3)      Riwayat Penyakit Dahulu : Diantaranya riwayat trauma/ fraktur.
4)      Riwayat penyakit keluarga: Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang, yaitu riwayat keluarga dengan hiperparatiroid
c.    Pengkajian psiko-sosio-spiritual: Perubahan kepribadian dan perilaku klienperubahan mental, kesulitan mengambil keputusan, kecemasan dan ketakutan hospitalisasi, diagnostic test dan prosedur pembedahan, adanya perubahan peran.
d.   Pemeriksaan Fisik ( ROS : Review of System )
1)      Breath (B1): Gejala: nafas pendek, dispnea nocturnal paroksimal, batuk dengan / tanpa sputum kental dan banyak. Tanda: takipnea, dispnea, peningkatan frekensi/kedalaman (pernafasan Kussmaul)
2)      Blood (B2): Gejala: Riwayat hipertensi lama atau berat, palpitasi, Tanda: hipertensi (nadi kuat, edema jaringan, pitting pada kaki, telapak tangan), disritmia jantung, pucat, kecenderungan perdarahan.
3)      Brain (B3): Gejala: penurunan daya ingat, depresi, gangguan tidur, koma. Tanda: gangguan status mental, penurunan tingkat kesadaran, ketidak mampuan konsentrasi, emosional tidak stabil
4)      Bladder (B4): Gejala: penurunan frekuensi urine, obstruksi traktus urinarius, gagal fungsi ginjal (gagal tahap lanjut), abdomen kembung,diare, atau konstipasi. Tanda: perubahan warna urine, oliguria, hiperkalsemia, Batu ginjal biasanya terdiri dari kalsium oksalat atau kalsium fosfat
5)      Bowel (B5): Gejala: anoreksia, mual, muntah, penurunan berat badan. Tanda: distensi abdomen, perubahan turgor kulit, kelainan lambung dan pankreas(tahap akhir), Ulkus peptikum.
6)      Bone (B6): Gejala: kelelahan ekstremitaas, kelemahan, malaise. Tanda: penurunan rentang gerak, kehilangan tonus otot, kelemahan otot, atrofi otot
7)      Integritas ego: Gejala: faktor stress (finansial, hubungan). Tanda: menolak, ansietas, takut, marah, mudah tersinggung, perubahan kepribadiann.
2.      Diagnosis Keperawatan
a.    Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi
b.   Hipertermia berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme
c.    Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan irama jantung
d.   Ketidakseimbangan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan faktor biologis
e.    Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan hormonal
f.    Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan metabolisme
g.   Retensi urine berhubungan dengan inhibisi arkus refleks
h.   Diare berhubungan dengan malabsorpsi



3.      Intervensi Keperawatan
No
Diagnosis Keperawatan
NOC
NIC
1.
Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi
Definisi :
Inspirasi dan/ atau ekspirasi yang tidak member fentilasi adekuat
Batasan karakteristik:
1.   Takipnea
2.   Pola napas abnormal
3.   Penuran kapasitas fital
4.   Peningkatan diameter anterio-posterior
5.   Takikardi

NOC :
-     Status pernapasan
-     Status pernapasan : ventilasi
-     Kelelahan : efek yang menggangu

Kriteria hasil :
-    Kedalam inspirasi dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 2 (deviasi yang cukup berat dari kisaran normal) ditingkatkan ke skala 4 (deviasi ringan dari kisaran normal)
-    Retraksi dinding dada dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 2 ( berat) ditingkatkan ke skala 4 ( ringan )
-    Ganguan dengan aktvfitas sehari-hari dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 2 (cukup berat) ditingkatkan ke skala 4 (ringan)

-                                                                                            
NIC
1.      Manajemen jalan napas
a.       Buka jalan napas denga teknik chin lift atau jaw thrust sebagai mana mestinya
b.      Posisikan pasie untuk memaksimalkan ventilasi
c.       Monitor status pernapasan dan ogsigenasi, sebagaimana mestinya.
2.      Monitor pernapasan
a.       Monitor kecepatan, iramah, kedalam dan kesulitan bernapas
b.      Catat pergerakan dada, catat ketidaksimestrisan, penggunaan otot-otot, bantu napas, dan retraksi pada otot supraklavikula dan intrekosta
c.       Auskultasi suara napas, catat area dimana terjadi penurunan atau tidak adanya ventilasi dan keberadaan suara napas tambahan.
3.      Pengaturan posisi
a.       Masukan posisi tidur yang diinginkan kedalam rencana perawatan jika tidak ada kontrak indikasi
b.      Imobilisasi atau sokong bagian tubuh yang tekena dampak, dengan tepat
c.       Minimalisir gesekan dan cedera ketika memposisikan dan membalikan tubuh pasien
2.
Hipertermia berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme.
Defenisi :
Suhu inti tubuh diatas kisaran normal diurnal karena kegagalan termoregulasi
Batasan karakteristik :
1.      Gelisah
2.      Kulit kemerahan
3.      Kulit terasa hangat
4.      Postur abnormal
5.      Takipnea



NOC
-       ­Termoregulasi
-       Tanda-tanda vital
-       Tingkat ketidaknyaman

Kriteria hasil :
-       Melaporkan kenyaman suhu
dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 2 (banyak terganggu) ditingkatkan ke skal 4 (sedikit terganggu)
-       Suhu tubuh dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 2 (deviasi yang cukup berat dari kisaran normal) ditingkatkan ke skal 4 (deviasi ringan dari kisaran normal)
-       Otot pegal dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 2 (cukup berat) ditingkatkan ke skal 4 (ringan)
NIC
1.      Manajemen lingkungan
a.       Cinptakan lingkungan yang aman bagi pasien
b.      Sedikan tempat tidur dan lingkungan yang bersih dan nyaman
c.       Batasi pengunjung
2.      Perawatan demam
a.       Pantau suhu dan tanda-tanda vital lainnya
b.      Monitor warna kulit dan suhu
c.       Dorong konsumsi cairan
3.      Pengaturan suhu
a.       Monitor suhu paling tidak setiap 2 jam, sesuai kebutuhan
b.      Monitor dan laporkan adanya tanda dan gejala dari hipotermia dan hipertermia
c.       Sesuaikan suhu lingkungan untuk kebutuhan pasien

















3.
Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan irama jantung
Defenisi :
Ketidak adekuatan dara yang diompah oleh jantung untuk memenuhi kebutuhan metabolic tubuh
Batasan karakteristik :
1.      Perubahan elektrokardiogram
2.      Takikardia
3.      Keletihan


NOC
-       Pengetahuan : manajemen gagal jantung
-       Status sirkulasi
-       Tingkat kelelahan

Kriteria hasil :
-       Faktor-faktor penyebab dan faktor yang berkontribusi dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 2 (pengetahua terbatas) ditingkatkan ke skal 4 (pengetahuan banyak)
-       Tekanan darah rata-rata dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 2 (deviasi yang cukup berat dari kisaran normal) ditingkatkan ke skala 4 (deviasi ringan dari kisaran normal)
-       Kelelahan dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 2 (cukup berat) ditingkatkan ke skal 4 (ringan)
NIC
1.      Manajemen asam basa
a.       Pertahankan kepatenan jalan napas
b.      Posisikan klien untuk mendapatkan fentilasi yang adekuat
c.       Atasi demam, denga tepat
2.      Peningkatan perfusi serebral
a.       Konsultasikan dengan dokter untuk menentukan parameter hemodinamik dan pertahankan parameter hemodinamik sesuai yang telah ditentukan
b.      Berikan agen untuk menuingkatkan volume intravaskuler, sesuai kebutuhan
c.       Auskaltasi suara paru adanya craekles atau sura tidak normal lainnya
3.      Manajemen disritmia
a.       Pastikan riwayat penyakit jantung dan distrimia pasien serta keluarganya
b.      Monitor perubahan EKG yang meningkatka resiko terjadinya distrimia
c.       Bantu paien dan keluarga untuk dapat memahami pilihan pengobatan











4.
Ketidakseimbangan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan faktor biologis
Definisi :
Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolic
Batasan karakteristi :
1.      Berat badan 20% atau lebih dibawa rentang berat badan ideal
2.      Bising usus hiperaktif
3.      Diare
4.      Penuruan berat badan dengan asupan makan adekuat

NOC
-       Status nutrisi
-       Status nutrisi : energy
-       Berat badan : masa tubuh
Kriteria hasil
-       Asupan gizi dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 2 (banyak menyimpang dari rentang normal) ditingkatkan ke skala 4 (sedikitmenyimpang dari rentang normal)
-       Stamina dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 2 (banyak menyimpang dari rentang normal) ditingkatkan ke skala 4 (sedikit meyimpang dari rentang normal)
-       Berat badan dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 2 (deviasi yang cukup besar dari kisaran normal) ditingkatkan ke skala 4 (deviasi ringan dari kisaran normal)
NIC
1.      Manajemen nutrisi
a.       Tentukan status gizi pasien dan kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan gizi
b.      Tentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi yang dibutukan untuk memenuhi persaratan gizi
c.       Lakukan atau bantu pasien terkait dengan perawatan mulut sebelum makan
2.      Monitor nutrisi
a.    Timbang berat badan pasien
b.      Identifikasi perubahan nafsu makan dan aktifitas akhir-akhir ini
c.       Monitor kecenderungan turun dan naiknya berast badan
3.      Bantuan peningkatan berat badan
a.    Timbang pasien pada jam yang sama setiap hari
b.   Diskusikan kemungkinan penyebap berat badan berkurang
c.    Ciptakan lingkungan yang menyenangkan dan menenangkan
5.
Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan hormonal.
Definisi :
Kerusakan pada epidermis dan/atau dermis
Batasan karakteristik :
1.      Kerusakan integritas kulit

NOC
-       Integritas jaringan : kulit dan membran mukosa
-       Perfusi jaringan
-       Perfusi jaringan : perifer

Kriteriah hasil
-       Tekstur dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 2 (banyak terganggu) ditingkatkan ke skala 4 (sedik terganggu)
-       Aliran darah melalui pembuluh dara jantung dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 2 (deviasi yang cukup besar dari kisaran normal) ditingkatkan ke skal 4 (deviasi ringan dari kisaran normal)
-       Pengisapan kapiler jari dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 2 (deviasi yang cukup besar dari kisaran normal) ditingkatkan ke skala 4 (deviasi ringan dari kisaran normal)
NIC
1.      Pengecekan kulit
a.       Periksa kulit dan selaput lendir terkait dengan adanya kemerahan, kehangatan ekstrim, edema, atau drainase
b.      Amati warna, kehangatan, bengkak, pulsasi, tekstur, edema, dan ulserasi pada ektermitas
c.       Monitor kulit untuk adanya ruam dan lecet
2.       Manajemen tekanan
a.       Berikan pakayan yang tidak ketat pada pasien
b.      Letakan matras atau kasur terapeutik dengan cara yang tepat
c.       Tahan diri dari memberikan tekanan pada bagian tubuh yang terkena dampak
d.      Berikan pijatan punggung/ leher, dengan cara yang tepat
e.       Monitor area kulit dari adanya kemerahan dan adanya pecah-pecah
f.       Monitor status nutria pasien
g.      Monitor sumber tekanan dan gesekan
6.
Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan metabolism.
Definisi :
Keterbatasan dalam gerakan fisik atau satu atau lebih ektermitas secara mandiri dan terarah
Batasan karakteristik:
1.      Instabilitas postur
2.      Keterbatasan rentang gerak
3.      Ketidak nyamanan
4.      Tremor akibat bergerak


NOC
-       Ambulasi
-       Pergerakan
-       Reaksi terhadap sisi yang terkena dampak
Criteria hasil :
-       Menopang berat badan dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 2 (banyak terganggu) ditingkatkan ke skal 4 (sedikit terganggu)
-       Keseimbangan dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 2 ( banyak terganggu) ditingkatkan ke skal 4 ( sedikit terganggu)
-       Melindungi sisi yang terkena dampak ketika ambulasi dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 2 (jarang menunjukan) ditingkatkan ke skal 4 (sering menunjukan)
NIC
1.      Manajemen energi
a.       Kaji status fisiologi pasien yang meneyebapkan kelelahan sesuai dengan konteks usia dan perkembangan
b.      Tentukan presepsi pasien/orang terdekat dengan pasien mengenai peneyebap kelelahan
c.       Anjurkan pasien untuk memilih aktifitas-aktifitas yang membangun ketahan
2.      Peningkatan latihan
a.       Lakukan bersama individu , jika diperlukan
b.      Libatkan kelueaga/orang yang memebri perawatan dalam merencanakan dan meningkatkan program latihan
c.       Informasikan individu mengenai manfaat kesehatan dan efek fisiologi kesehatan
3.      Terapi aktivitas
a.       Pertimbangkan kemampuan klien dalam berpartisipasi melalui aktifitas spesifik
b.      Bantu klien untuk tetap fokus pada kekuatan dibandingkan dengan kelemahan
c.       Dorong keter;ibatan daalam aktifitas kelompok maupun terapi jika memang diperlukan
7.
Retensi urine berhubungan dengan inhibisi arkus refleks.
Definisi :
Pengosongan kandung kemih tidak tuntas
Batasan karakteristik :
1.      Berkemih sedikit
2.      Sensasi kandung kemih penuh
3.      Distensi kandung kemih



NOC
-       Eliminasi urin
-       Status kenyaman : fisik
-       Kontinensia urin
Kriteria hasil :
-       Pola eliminasi dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 2 (banyak terganggu) ditingkatkan ke skal 4 (sedikit terganggu)
-       Relaksasi otot dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 2 (banyak terganggu) ditingkatkan ke skal 4 (sedikit terganggu)
-       Mengenali keinginan untuk berkemih dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 2 (jarang menunjukan) ditingkatkan ke skal 4 (sering menunjukan)
NIC
1.      Kateterisasi urine
a.       Jelaskan prosedur dan rasionalisasi kateterisasi
b.      Monor intake dan autput
c.       Dokumentasikan perawatan termaksut ukuran kateter,jenis, jumlah mengisian bola kateter
2.      Perawatan retensi urine
a.       Lakukan pengkajian komprehensif sintem perkemihan fokus terhadap ikontinensia
b.      Berikan waktu yang cukup untuk pengosongan kandung kemih (10 menit)
c.       Monitor derajat distensi kandung kemih dengan palpasi dan perkusi
3.      Terapi relaksasi
a.       Gambarkan rasionalisasi dan manfaat relaksasi serta jenis relaksasi yang tersedia
b.      Uji penurunan energy saat ini, ketidak mampuan untuk kosentrasi, atau gejala lain yang mengiringi yang mungkin mempengaruhi kemampuan kognisi untuk berfokus pada teknik relaksasi
c.       Evaluasi dan dokumentasikan respon terhadap terapi relaksasi
8.
Diare berhubungan dengan malabsorpsi.
Definisi :
Pasase feses yang lunak dan tidak berbentuk
Batasan karakteristik :
1.      Ada dorongan untuk defekasi
2.      Bising usus hiperaktif
3.      Defekasi feses cair lebih dari 3x dalm 24 jam

NOC
-       Kontinensia usus
-       Eliminasi usus
-       Keparahan gejala

Criteria hasil :
-       Mengenali keinginan untuk defekasi dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 2 (jarang menunjukan) ditingkatkan ke skal 4 (sering menunjukan)
-       Suara bising usus dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 2 (banyak terganggu) ditingkatkan ke skal 4 (sedikit terganggu)
-       Intensitas gejala dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 2 (cukup berat) ditingkatkan ke skal 4 (ringan)
NIC
1.      Manajemen diare
a.       Instruksikan pasien atau anggota kelurga untuk mencatat warna, volume, frekuensi, dan konstitensi tinja
b.      Evasluasi kandungan nutrisi dari makanan yang sudah dikonsumsi sebelumya
c.       Amati turgor kulit secara berkala
2.      Pemasangan infus
a.       Perifikasi intruksi untuk terapi IV
b.      Beritahu pasien berdasarkan prosedur
c.       Beri label pada pembalut IV dengan tanggal, ukuran, inisial sesuai protokol lembaga
3.      Manajemen saluran cerna
a.       Catat tanggal buang air besar terahir
b.      Monitor buang air besar termaksut frekuensi, konsistensi, bentuk, volume, dan warna dengan cara yang tepat
c.       Monitor bising usus


4.      Implementasi
Implementasi keperawatan adalah tahap pelaksanaan yang dimulai setelah rencana tidankan disusun untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu rencana tindakan yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan klien.
5.      Evaluasi
Perencanaan evaluasi memuat kriteria keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan keperawatan, keberhasilan proses dapat dilihat dengan jalan membandingkan antara proses dengan pedoman atau rencana proses tersebut. Sedangkan keberhasilan tindakan dapat dilihat dengan membandingkan antara tingkat kemandirian pasien dan tingkat kemajuan kesehatan pasien dengan tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya.









BAB III
KESIMPULAN
A.       Kesimpulan
Kelenjar paratiroid berfungsi mensekresi parathormon (PTH), senyawa yang membantu memelihara keseimbangan dari kalsium dan phosphorus dalam tubuh. Oleh karena itu yang terpenting hormon paratiroid penting sekali dalam pengaturan kadar kalsium dalam tubuh sesorang. Dengan mengetahui fungsi dan komplikasi yang dapat terjadi pada kelainan atau gangguan pada kelenjar paratiroid ini maka perawat dianjurkan untuk lebih peka dan teliti dalam mengumpulkan data pengkajian awal dan menganalisa suatu respon tubuh pasien terhadap penyakit, sehingga kelainan pada kelenjar paratiroid tidak semakin berat.
B.        Saran
Dengan disusunnya makalah ini diharapkan kepada semua pembaca agar dapat menelaah dan memahami apa yang tertulis dalam makalah ini sehingga bisa menambah pengetahuan pembaca. Disamping itu, kami juga mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca sehingga kami bisa berorientasi lebih baik pada makalah kami selanjutnya.




DAFTAR PUSTAKA

Bulechek G.M, Butcher H.K, Dochterman J.M, Wagner C.M2013. Nursing Interventions Classification (NIC). Singapura: Elsevier Inc.

Herdman H.T (Eds), Kamitsuru S (Eds). 2015. NANDA Interntional Inc. Diagnosis Keperawatan: Definisi & Klasifikasi 2015-2017. Edisi 10.Jakarta: Penerbit Bukun Kedokteran

Moorhead S, Johnson M, Maas M.L, Swanson E. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC). Singapura: Elsevier Inc.

Nurarif  H.A, Kusuma H. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta: MediAction

Tarwoto. (Eds). 2013. Keperawatan Medikal Bedah Gangguan Sistem Persarafan. Edisi II. Jakarta: CV Sagung Seto






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asuhan Keperawatan Laringitis

SAP Sindrom Nefrotik

Asuhan Keperawatan Hipoparatiroid