Asuhan Keperawatan Sindrom Nefrotik
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sindrom
nefrotik (SN) ialah keadaan klinis yang ditandai oleh proteinuria
masif,hipoproteinemia, edema, dan dapat disertai dengan hiperlipidemia. Angka
kejadian SN di Amerika dan Inggris berkisar antara 2-7 per 100.000 anak berusia
di bawah 18 tahun per tahun, sedangkan di Indonesia dilaporkan 6 per
100.000 anak per tahun, dengan perbandingan anak laki-laki dan perempuan
2:1. Sindrom nefrotik merupakan penyebab kunjungan sebagian
besar pasien di Poliklinik Khusus Nefrologi, dan merupakan penyebab
tersering gagal ginjal anak yang dirawat antara tahun 1995-2000.Semua
penyakit yang mengubah fungsi glomerulus sehingga mengakibatkan kebocoran
protein (khususnya albumin) ke dalam ruang Bowman akan menyebabkan terjadinya
sindrom ini.
Etiologi SN
secara garis besar dapat dibagi 3, yaitu kongenital, glomerulopati
primer/idiopatik, dan sekunder mengikuti penyakit sistemik seperti
pada purpura Henoch-Schonlein dan lupus eritematosus sitemik. Sindrom
nefrotik pada tahun pertama kehidupan, terlebih pada bayi berusia
kurang dari 6 bulan, merupakan kelainankongenital (umumnya herediter) dan
mempunyai prognosis buruk.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimana konsep dasar dari penyakit SN?
2.
Bagaimana konsep keperawatan penyakit SN?
C.
TUJUAN PENULISAN
1.
Tujuan Umum
Memperoleh pengetahuan dan gambaran yang jelas tentang
penerapan asuhan keperawatan pada penderita penyakit sindrom nefrotik. Serta di
harapkan mahasiswa mampu membuat asuhan keperawatan tentang penyakit sindrom
nefrotik
2.
Tujuan Khusus
Dengan membaca makalah ini mahasiswa ataupun pembaca mampu:
a.
Mengetahui bagaimana konsep dasar dari penyakit
sindrom nefrotik
b.
Mengetahui bagaimana konsep keperawatan dari penyakit
sindrom nefrotik
D.
MANFAAT PENULISAN
1.
Bagi rumah sakit
2.
Sebagai sumbangan informasi tentang kasus- kasus
dengan penyakit sindrom nefrotik.
3.
Bagi institusi pendidikan
4.
Dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam
pembelajaran atau perkuliahan mengenai konsep dasar dan konsep keperawatan yang
berhubungan dengan penyakit sindrom nefrotik.
5.
Bagi profesi keperawatan
6.
Dapat menjadi penambah pengetahuan mengenai konsep
dasar dan konsep keperawatan khususnya dalam melakukan praktik kesehatan serta
dalam proses pembuatan ASKEP
7.
Bagi penulis
8.
Menambah wawasan dan pengetahuan tentang konsep dasar
dan konsep keperawatan mengenai penyakit sindrom nefrotik, serta dapat
dijadikan sebagai panduan belajar dan dalam pembuatan asuhan keperawatan.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Konsep
Medis
1.
Pengertian
Nefrotik sindrom merupakan
kelainan klinik yang ditandai dengan proteinuria, hipoalbuminemia, edema, dan
hiperkolesterolemia (Baughman 2000).
Nefrotik sindrom adalah
keadaan klinis yang disebabkan oleh peningkatan permeabilitas glomerulus
terhadap protein plasma yang menimbulkan proterinuri, hipoalbuminemia,
hiperlipidemia, dan edema.(Sowden 2002).
Nefrotik sindrom
merupakan keadaan klinis dan biokimia yang melibatkan peningkatan permeabilitas
glomeruli. Dapat terjadi berkaitan dengan berbagai penyakit ginjal.Tanda khas
penyakit ini adalah edema, proteinuria, hipoalbuminemia dan hiperlipidemia
(Sacharin, 1994).
Nefrotik sindrom adalah
suatu ganggua dimana ginjal telah mengalami kerusakan, yang menyebabkan
kebocoran protein dari darah kedalam urine. Nefrotik sindrom ditandai oleh
proteinuri (Lebih dari 3,5 g / hari), hipoalbuminemia, hiperlipedemia edema. (http: / / en. Wikipedia.Org /`wiki/
nephritic_syndoreme, 2007).
2.
Etiologi
Penyebab Nefrotik Syndrome dibagi menjadi 2 (dua) yaitu:
a.
Primer
1)
Glomeruloneftritis
2)
Nefrotik syndrome peruahan minimal
b.
Sekunder
1)
Diabetes miletius
2)
Sistema Lupus Eritematosus
3)
Amyloidosis.
3.
Patofisiologi
Penyebab dari sindrom nefrotik terdiri
dari primer dan sekunder, penyebab secara primer berkaitan dengan
berbagai penyakit ginjal, seperti: Glomerulonefritis,Nefrotik sindrom perubahan
minimal.Sedangkan secara sekunder yaitu akibat infeksi, penggunaan obat, dan
penyakit sistemik lain, seperti: Diabetes mellitus disertai glomerulosklerosis
interkapiler, Sistema lupus eritematosus, Amyloidosis, dan trombosis vena
renal. Kondisi dari sindrom nefrotik adalah hilangnya plasma protein, terutama
albumin ke dalam urine.Meskipun hati mampu meningkatkan produksi albumin, namun
organ ini tidak mampu untuk terus mempertahankannya jika albumin terus-menerus
hilang melalui ginjal sehingga terjadi hipoalbuminemia.
Terjadi penurunan tekanan onkotik menyebabkan edema
generalisata akibat cairan yang berpindah dari sistem vaskuler ke dalam ruang
caiaran ekstraseluler.Penurunan sirkulasi volume darah mengaktifkan sistem
renin-angiotensin menyebabkan retensi natrium dan edema lebih lanjut.
Manifestasi hilangnya protein dalam serum akan menstimulasi sintesis
lipoprotein di hati dan terjadi peningkatan konsentrasi lemak dalam darah
(hiperlipidemia).
Sindrom nefrotik dapat terjadi di
hampir setiap penyakit renal intrinsik atau sistemik yang
memengaruhi glomerulus. Meskipun secara umum penyakit ini dianggap menyerang
anak-anak, namun sindromnefrotik juga terjadi pada orang dewasa
termasuk lansia..Respon perubahan patologis pada glomerulus secara
fungsional akan memberikan berbagai masalah keperawatan pada pasien yang
mengalami glomerulus progresif cepat
Kelainan yang terjadi pada sindrom nefrotik yang
paling utama adalah proteinuria sedangkan yang lain dianggap sebagai
manifestasi sekunder. Kelainan ini disebabkan oleh karena kenaikan permeabilitas dinding kapiler glomerulus yang sebabnya
belum diketahui yang terkait dengan hilangnya muatan negative gliko protein
dalam dinding kapiler.Pada sindrom nefrotik keluarnya protein terdiri atas
campuran albumin dan protein yang sebelumnya terjadi filtrasi protein didalam
tubulus terlalu banyak akibat dari kebocoran glomerolus dan akhirnya
diekskresikan dalam urin.
Pada sindrom nefrotik protein hilang lebih dari 2 gram
perhari yang terutama terdiri dari albumin yang mengakibatkan hipoalbuminemia,
pada umumnya edema muncul bila kadar albumin serum turun dibawah 2,5 gram/dl.
Mekanisme edema belum diketahui secara fisiologi tetapi kemungkinan edema
terjadi karena penurunan tekanan onkotik/ osmotic intravaskuler yang
memungkinkan cairan menembus keruang intertisial, hal ini disebabkan oleh
karena hipoalbuminemia.Keluarnya cairan keruang intertisial menyebabkan edema
yang diakibatkan pergeseran cairan. Akibat dari pergeseran cairan ini volume
plasma total dan volume darah arteri menurun dibandingkan dengan volume
sirkulasi efektif, sehingga mengakibatkan penurunan volume intravaskuler yang
mengakibatkan menurunnya tekanan perfusi ginjal. Hal ini mengaktifkan system
rennin angiotensin yang akan meningkatkan konstriksi pembuluh darah dan juga
akan mengakibatkan rangsangan pada reseptor volume atrium yang akan merangsang
peningkatan aldosteron yang merangsang reabsorbsi natrium ditubulus distal dan
merangsang pelepasan hormone anti diuretic yang meningkatkan reabsorbsi air
dalam duktus kolektifus. Hal ini mengakibatkan peningkatan volume plasma tetapi
karena onkotik plasma berkurang natrium dan air yang direabsorbsi akan
memperberat edema.
Stimulasi renis angiotensin, aktivasi aldosteron dan
anti diuretic hormone akan mengaktifasi terjadinya hipertensi. Pada sindrom
nefrotik kadar kolesterol, trigliserid, dan lipoprotein serum meningkat yang
disebabkan oleh hipoproteinemia yang merangsang sintesis protein menyeluruh
dalam hati, dan terjadinya katabolisme lemak yang menurun karena penurunan
kadar lipoprotein lipase plasma. Hal ini dapat menyebabkan arteriosclerosis.
Pada status nefrosis hampir semua kadar lemak
(kolesterol, trigliserida) dan lipoprotein serum meningkat. Hipoproteinemia
merangsang sintesis protein menyeluruh dalam hati, termasuk lipoprotein dan katabolisme
lemak menurun, karena penurunan kadar lipoprotein lipase plasma. Sistem enzim
utama yang mengambil lemak dari plasma. Apakah lipoprotein plasma keluar
melalui urin belum jelas Sindrom nefrotik dapat terjadi dihampir setiap
penyakit renal intrinsik atau sistemik yang mempengaruhi glomerulus. Meskipun
secara umum penyakit ini dianggap menyerang anak-anak, namun sindrom nefrotik
juga terjadi pada orang dewasa termasuk lansia. Respon perubahan patologis
pada glomerulus secara fungsional akan memberikan berbagai masalah keperawatan
pada pasien yang mengalami glomerulus progresif cepat.
Hilangnya protein
menyebabkan penurunan tekanan osmeotik plasma dan peningkatan hidrostatik, yang
mengakibatkan terjadinya akumulasi cairan dalam rongga interstisial dan rongga
abdomen .penurunan volume cairan vaskuler menstimulis sistem rennin –
angiotensin yang mengakibatkan disekresinya hormon antidiuretik (ADH), dan
aldostreron, yang mengakibatkan reabsorbsi natrium (Na) dan air hingga
mengalami peningkatan dan akhirnyamenambah volume intravaskuler.
4.
Patogenesis
Glomeruli adalah bagian
dari ginjal yang berfungsi untuk menyaring darah.Pada nefrotik sindrom,
glomeruli mengalami kerusakan karena inflamasi dan hialinisasi sehingga
protein-protein yang berukurang kecil seperti albumin, imunoglobulin dan
anti-trombin dapat melewati ginjal dan keluar bersama urine.
Albumin adalah protein
dalam darah yang berfungsi mempertahankan tekanan osmotic koloid albumin
berfungsi mencegah bocornya darah dari pembuluh darah kedalam jaringan.Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pembenukan edema pada nefrotik syndrome adalah
dikarenakan kerusakan mikrovaskuler dan retensi natrium dan air oleh karena
kerusakan ginjal (akibat peningkatan sekresi angio tensin).
Didalam merespon
kebocoran albumin, hati (liver) mensistesis lebih banyak protein, dan kadar
protein-protein yang berukuran lebih besar menjadi meningkat (seperti alpha 2 – macoglobulindan lipoprotein).
Peningkatan lipoprotein, kemudian direabsobsi oleh sel-sel tubuler, yang
kemudian menompok dan membentuk oval fat
bodies atau fatty casts(http: / / en.
Wekipedi.Org / wiki / nephrotik syndrome, 2007).
5.
Manifestasi kliniks
a.
Tanda paling umum adalah peningkatan
cairan di dalam tubuh, diantaranya adalah :
1)
Edema periorbital, yang tampak pada pagi
hari
2)
Pitting, yaitu edema (penumpukan cairan)
pada kaki bagian atas
3)
Penumpukan cairan pada rongga pleura
yang menyebabkan efusi pleura
4)
Penumpukan cairan pada rongga peritoneal
yang menyebabkan asites
b.
Hipertensi (jarang terjadi)karena
penurunan voulume intravaskuler yang mengakibatkan menurunnya tekanan perfusi
renal yang mengaktifkan sistem renin angiotensin yang akan meningkatkan
konstriksi pembuluh darah.
c.
Beberapa pasien mungkin mengalami dimana
urine berbusa, akibat penurunan tekanan permukaan akibat proteinuri
d.
Hematuri dan oliguri (tidak umum terjadi
pada nefrotik syndrome).
e.
Pucat
f.
Anoreksia dan diare disebabkan karena edema mukosa
usus.
g.
Sakit kepala, malaise, nyeri abdomen, berat badan
meningkat dan keletihan umumnya terjadi.
h.
Gagal tumbuh dan pelisutan otot (jangka panjang)
i.
Proteinuria > 3,5 gr/hr pada dewasa atau 0,05 g/kg
BB/hr pada anak-anak.
j.
Hipoalbuminemia < 30 gr/l
k.
Hiperlipidemia, umumnya ditemukan hiperkolesterolemia
l.
Hiperkoagulabilitas, yang akan meningkatkan risiko
trombosis vena dan arteri.
m. Kenaikan
berat badan secara progresif dalam beberapa hari/minggu.
n.
klien mudah lelah atau lethargie tapi tidak kelihatan
sakit payah.
6.
Pemeriksaan dignostik
a.
Laboratorium :
1)
Pemeriksaan sample urine
Pemeriksaan sample urine menunjukkan
adanya proteinuri (adanya protein dalam urine)
2)
Pemeriksaan darah
a)
Hipoalbunemia, dimana kadar albumin
kurang dari 30 gram/liter
b)
Hiperkolestrolemia (kadar kolestrol
darah meningkat), khususnya peningkatan Low density lipoprotein (LDL), yang
secara umum bersamaan dengan peningkatan VLDL
3)
Pemeriksaan elektrolit, ureum dan
kreatinin, yang berguna untuk mengetahui fungsi ginjal.
b.
Pemeriksaan lain
Pemeriksaan lebih lanjut perlu dilakukan
apabila penyebabnya belum diketahui secara jelas, yaitu:
1)
Biosi ginjal (jarang dilakukan pada
anak-anak)
2)
Pemeriksaan penanda Auto – immune (ANA,
ASOT, C3, cryyoglobulins, serum electrophoresis).
7.
Penatalaksanaan
a.
Supotrif
1)
Memonitor dan mempertahankan volume
cairan tubuh yang normal.
a)
Memonitior urine output.
b)
Pemeriksaan tekanan darah secara
berkalah
c)
Pembatasan cairan, sampai 1 liter
d)
Pemberian diuretic (furosemid IV).
2)
Memonitor fungsi ginjal :
a)
Lakukan pemeriksaan elektrolit, ureum
dan kretinan setiap hari
b)
Hitung GFR setiap hari
3)
Mencegah komplikasi
4)
Pemberian transfuse albumin secara umum
tidak dipergunakan karena efek kehilangannya hanya bersifat sementara
b.
Tindakan khusus:
1) Pemberian
imunosupresi untuk mengatasi glumerulonefritis (steroids, cyclosporine).
2) Pembatasan
glukosa darah, apabila diabetes milletius
3) Pemberian
ACE inhibitor : untuk menurunkan tekanan darah
c.
Penatalaksanaan Keperawatan
1)
Tirah baring
Menjaga pasien dalam keadaan tirah baring selama
beberapa harimungkin diperlukan untuk meningkatkan diuresis guna mengurangi
edema. Baringkan pasien setengah duduk, karena adanya cairan di rongga thoraks
akan menyebabkan sesak nafas. Berikan alas bantal pada kedua kakinya sampai
pada tumit (bantal diletakkan memanjang, karena jika bantal melintang maka
ujung kaki akan lebih rendah dan akan menyebabkan edema hebat).
2)
Terapi cairan
Jika klien dirawat di rumah sakit, maka intake dan
output diukur secara cermat da dicatat. Cairan diberikan untuk mengatasi
kehilangan cairan dan berat badan harian.
3)
Perawatan kulit
Edema masif merupakan masalah dalam perawatan
kulit.Trauma terhadap kulit dengan pemakaian kantong urin yang sering, plester
atau verban harus dikurangi sampai minimum. Kantong urin dan plester harus
diangkat dengan lembut, menggunakan pelarut dan bukan dengan cara
mengelupaskan. Daerah popok harus dijaga tetap bersih dan kering dan scrotum
harus disokong dengan popok yang tidak menimbulkan kontriksi, hindarkan
menggosok kulit.
4)
Perawatan mata
Tidak jarang mata anak tertutup akibat edema kelopak
mata dan untuk mencegah alis mata yang melekat, mereka harus diswab dengan air
hangat.
5)
Penatalaksanaan krisis hipovolemik.
Anak akan mengeluh nyeri abdomen dan mungkin juga
muntah dan pingsan. Terapinya dengan memberikan infus plasma intravena. Monitor
nadi dan tekanan darah.
6)
Pencegahan infeksi.
7)
Anak yang mengalami sindrom nefrotik cenderung
mengalami infeksi dengan pneumokokus kendatipun infeksi virus juga merupakan
hal yang menganggu pada anak dengan steroid dan siklofosfamid.
8)
Perawatan spesifik meliputi: mempertahankan grafik
cairan yang tepat, penimbnagan harian, pencatatan tekanan darah dan pencegahan
dekubitus.
9)
Dukungan bagi orang tua dan anak. Orang tua dan anak
sering kali tergangu dengan penampilan anak. Pengertian akan perasan ini
merupakan hal yang penting. Penyakit ini menimbulkan tegangan yang berta pada
keluarga dengan masa remisi, eksaserbasi dan masuk rumah sakit secara periodik.
Kondisi ini harus diterangkan pada orang tua sehingga mereka mereka dapat
mengerti perjalanan penyakit ini. Keadaan depresi dan frustasi akan timbul pada
mereka karena mengalami relaps yang memaksa perawatan di rumahn sakit.
10)
Bila pasien seorang anak laki-laki, berikan ganjal
dibawah skrotum untuk mencegah pembengkakan skrotum karena tergantung (pernah
terjadi keadaan skrotum akhirnya pecah dan menjadi penyebab kematian pasien).
Prognosis
umumnya baik, kecuali pada keadaan-keadaan sebagai berikut :
a.
Menderita untuk
pertamakalinya pada umur di bawah 2 tahun atau di atas 6 tahun.
b.
Disertai oleh
hipertensi.
c.
Disertai hematuria.
d.
Termasuk jenis
sindrom nefrotik sekunder.
e.
Gambaran
histopatologik bukan kelainan minimal.
Pada umumnya sebagian besar (+
80%) sindrom nefrotik primer memberi respons yang baik terhadap pengobatan awal
dengan steroid, tetapi kira-kira 50% di antaranya akan relapse berulang dan
sekitar 10% tidak memberi respons lagi dengan pengobatan steroid.
9.
Komplikasi
a.
Trombosis vena, akibat kehilangan anti –
trombhin 3, yang berfungsi untuk mencegah terjadinya thrombosis. Thrombosis
vena ini sering terjadi pada vena renalis. Tindakan yang dilakukan untuk
mengatasinya adalah dengan pemberian heparin
b.
Infeksi (seperti haemophilus influenzae end streptococcus pneumonia), akiabt
kehilangan immunoglobulin
c.
Gagal ginjal akut, akibat hipovolemia.
Di samping terjadinya penumpukan cairan didalam jaringan, terjadi juga
kehilangan cairan didalam intravaskuler
d.
Edema pulmonal, akibat kebocoran cairan,
kadang masuk di dalam paru-paru yang menyebabkan hipoksia dan dispnea.
e.
Shock hipovolemik: terjadi terutama pada
hipoalbuminemia berat (< 1 gram/100ml) yang menyebabkan hipovolemia berat
sehingga menyebabkan shock.
f.
Kerusakan
kulit
g.
Peritonitis (berhubungan dengan asites)
h.
Hipovolemia
i.
Komplikasi tromboemboli- terombosis vena renal,
trombosis vena dan arteri ekstremitas dan trombosis arteri serebral.
10.
|
Kondisi lemah
|
|
Resiko kerusakan integritas
kulit
|
|
Asites
|
|
Menekan isi perut
|
|
Mual muntah
|
|
Nafsu makan menurun
|
|
Ketidakseimbangan nutrisi:
kurang dari kebutuhan
|
|
Gangguan mobilisasi
|
|
Penekanan terlalu dalam
pada tubuh
|
|
Pengiriman nutrisi dan
oksigen kejaringan tubuh
|
|
Sindrom Nefrotik
|
|
Gangguan pembentukan
glomerulus
|
|
Albumin melewati membrane
bersama urine
|
|
Hipoalbumenia
|
|
Resiko
kekurangan volume cairan
|
|
Hipovilemia
|
|
Tekanan koloid turun,
tekanan hidrostatik turun
|
|
Cairan masuk keekstra
seluler
|
|
Retensio cairan dirongga
perut
|
|
Retensio cairan seluruh
tubuh
|
|
Edema anasarka
|
|
Kelebihan
volume cairan
|
|
Gangguan citra tubuh
|
|
Hipoksia ringan
|
|
Daya tahan
tubuh menurun
|
|
Risiko infeksi
|
|
Intoleransi aktivitas
|
B. Konsep
keperawatan
1.
Pengkajian
a.
B1 (breathing)
Biasanya tidak didapkan adanya gangguan
pola nafas dan jalan nafas walau secara frekuensi menglami peningkatan terutama
pada faseakut. Pada fase lanjut sering didapatkan adanya gangguan pola nafas
dan jalan nafas yang merupakan respons terhadap edema pulmoner dan efusi pleura
b.
B2 (blood)
Sering ditemukan penurunan curah jantung
respon sekunder dari peningkatan beban volume
c.
B3 (brain)
Didapatkan edema wajah terutama
periorbital, sclera tidak ikterik .status neurologis mengalami perubahan sesuai
tingkat parahnya azotemia pada sistem saraf pusat.
d.
B4 (Bladder)
Perubahan warna urine output seperti
warna urine berwarna kola.
e.
B5 (Bowel)
Didapatkan adanya mual dan muntah,
anoreksia, sehingga sering didapatkan penurunan intake nutrisi dari
kebutuhan.Didapatkan asites pada abdomen.
f.
B6 (Bone)
Didapatkan adanya kelemahan fisik secar
umum, efek sekunder dari edema tungkai dari keletihan fisik secara umum
2.
Diagona keperawatan
a.
Kelebihan volume cairan b/d kelebihan
asupan cairan
b.
Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari
kebutuhan tubuh b/d ketidakmampuan makan
c.
Gangguan citra tubuh b/d penykit
d.
Intoleransi aktivitas b/d imobilisasi
e.
Risiko kekurangan volume cairan
f.
Risiko kerusakan integritas kulit
g.
Risiko infeksi
3.
Intervensi
|
No.
|
Diagnosa keperawatan
|
Noc
|
Nic
|
|
1
|
Diagnosis 1
Kelebihan volume cairan b/d kelebihan asupan cairan
Defenisi :peningkatan retensi cairan isotonik
Batasan karakteristik:
1)
Adanya bunyi jantung S3
2)
Anasarka
3)
Asuhan berlebihan haluaran
4)
Asotemia
5)
Dispnea
6)
Edema
7)
Efusi pleura
8)
Gangguan pola nafas
9)
Gangguan tekanan darah
10) Gelisah
11) Ketidakseimbangan elektrolit
12) Oliguria
13) Penambahan berat badan dalam waktu singkat
14) Penurunan hemoglobin
|
Noc:
1.
Keseimbangan cairan
2.
Keseimbangan elektrolit
3.
Status pernapasan
4.
Eliminasi urine
5.
Tanda – tanda vital
6.
Keparahan cairan berlebihan
7.
Fungsi ginjal
Kriteria hasil:
1.
Keseimbangan cairan dengan skala target outcome dipertahankan pada skala
1 (sangat terganggu) ditingkatkan ke skala 4 (sedikit terganggu)
1.
Keseimbangan elektrolit dengan skala target outcome dipertahankan pada
skala 1 (deviasi berat dari kisaran normal) ditingkatkan ke skala 4 (deviasi
sedang dari kisaran normal)
2.
Status pernafasan dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1
(deviasi berat dari kisaran normal) ditingkatkan ke skala 4 (deviasi ringan
dari kisaran normal)
3.
Eliminasi urin dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1
(sangat terganggu) ditingkatkan ke skala 4 (sedikit terganggu)
4.
Tanda-tanda vital dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1
(deviasi berat dari kisaran normal) ditingkatkan ke skala 4 (deviasi ringan
dari kisaran normal)
5.
Eliminasi urin dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1
(sangat terganggu) ditingkatkan ke skala 4 (sedikit terganggu)
6.
Keparahan cairan berlebihan dengan skala target outcome dipertahankan
pada skala 1 (berat) ditingkatkan ke skala 4 (ringan)
7.
Fungsi ginjal dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1
(sangat terganggu) ditingkatkan ke skala 4 (sedikit terganggu)
|
Intervensi :
1.
Monitor ttv
-
Monitor tekanan darah, nadi, suhu dan status pernapasan dengan tepat
-
Monitor warna kulit, suhu dan kelembapan
-
Identifikasi penyebab perubahan tanda-tanda vital
2.
Pemantauan (monitor elektrolit)
-
Monitor serum elektrolit
-
Monitor serum albumin dan kadar protein total sesuai dengan indikasi
-
Monitor rekaman EKG untuk mengetahui perubahan abnormal yang berkaitan
dengan kadar kalium, kalsium, dan magnesium
-
Monitor tanda/gejala hipokalemia: kelemahan otot, iregularitas jantung
(PVC), perpanjangan interval QT, depresi gelombang T, depresi segmen ST,
adanya gelombang U, kelelahan, parastesia, penurunan refleks, anoreksia,
konstipasi, penurunan motilitas usus, pusing, bingung, peningkatan
sensitifitas terhadap digital, dan depresi pernapasan.
3.
Manajemen asam-basa
-
Monitor kecenderungan PH arteri, PaCO2 dan HCO3
dalam rangka mempertimbangkan jenis ketidakseimbangan yang terjadi (mis,
respiratorik/metabolik) dan kompensasi mekanisme fisiologis yang terjadi
(kompensasi paru atau ginjal dan penyangga fisiologis atau physiological
buffers)
-
Pertahankan kepatenan jalan nafas
-
Posisikan klien untuk mendapatkan ventilasi yang adekuat (mis, membuka
jalan nafas dan menaikkan posisi kepala di tempat tidur)
-
Pertahankan pemeriksaan berkala terhadap Ph arteri dan plasma elektrolit
untuk membuat perencanaan perawatan yang akurat
4.
Manajemen elektrolit
-
Monitor nilai serum elektrolit yang abnormal
-
Monitor manifestasi ketidakseimbangan elektrolit
-
Pertahankan pemberian cairan IV berisi elektrolit dengan laju yang lambat
-
Konsultasikan dengan dokter jika tanda-tanda dan gejala ketidakseimbangan
cairan dan/atau elektrolit menetap/memburuk
5.
Manajemen hipervolemia
-
Monitor pola pernapasan untuk mengetahui adanya gejala edema pulomonar
(mis, cemas, sesak nafas, ortopnea, dispnea, takipnea, batuk, produksi sputum
kental, dan nafas pendek)
-
Monitor suara paru abnormal
-
Monitor suara jantung abnormal
-
Monitor edema perifer
-
Monitor data lab yang menandakan adanya hemokonsentrasi (mis, natrium,
BUN, hematokrit, gravitasi spesifik urin jika tersedia)
-
Monitor data lab yang menandakan adanya potensi terjadinya peningkatan
tekanan onkolitik plasma (mis, peningkatan protein dan albumin) jika tersedia
-
Monitor data lab tentang penyebab yang mendasari terjadinya hipervolemia
(mis, B-type, natriuretic peptide untuk gagal jantung, BUN, kreatinin dan GFR
untuk gagal ginjal jika tersedia)
-
Timbang berat badan tiap hari dengan waktu yang tetap/sama (mis, setelah
buang air kecil, sebelum sarapan) dan monitor kecenderungannya
6.
Terapi intra vena
-periksa tipe cairan, jumlah,kadaluarsa,karakteristik
dari cairan dan tingkat merusak pada kontainer
-
monitor kecepatan aliran intravena dan area intravena selama (pemberian)
infus
-
monitor reaksi fisik terhadap
adanya cairan yang berlebihan
-
monitor tanda dan gejala yang berhubungan dengan flebitis infus dan
infeksi lokal
-
seleksi dan siapkan IV pompa infus, sesuai indikasi.
7.
Terapi hemodialisa
-
Ambil sampel darah dan tinjau komponen kimiawi darah (nitrogen urea
darah, serum kreatinin, serum Na, kalium, PO) sebelum memulai perawatan
-
Catat tanda-tanda vital: BB, suhu, denyut nadi, pernapasan, tekanan
darah.
-
Lakukan hemodialisis sesuai peraturan
-
Monitor tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu, dan respon pasien selama
dialisis.
-
Berikan heparin, sesuai peraturan
-
Hentikan hemodialisis sesuai dengan peraturan
-
Bandingkan organ vital dan komponen kimia darah pasca dialisis dan
sebelum dialisis
|
|
2
|
Diagnosis 2
Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidakmampuan
makan
Defenisi : asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik
Batas katrakteristik:
1)
Ketidakmampuan memakan makanan
2)
Sariawan rongga mulut
3)
Tonus otot menurun
4)
Kurang minat pada makanan
5)
Membran mukosa pucat
6)
Bising usus hiperaktif
|
Noc :
1.
Status nutrisi:
2.
Nafsu makan
3.
Kesehatan mulut
4.
Status menelan
5.
Berat badan : massa tubuh
6.
Status menelan : fase oral
Kriteria hasil:
1.
Status nutrisi dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1
(sangat menyimpang dari rentang normal) ditingkatkan ke skala 4 (sedikit
menyimpang dari rentang normal)
2.
Nafsu makan dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (sangat
terganggu) ditingkatkan ke skala 4 (sedikit terganggu)
3.
Kesehatan mulut dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1
(sangat terganggu) ditingkatkan ke skala 4 (sedikit terganggu)
4.
Status menelan dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1
(sangat terganggu) ditingkatkan ke skala 4 (sedikit terganggu)
5.
Berat badan : massa tubuh dengan skala target outcome dipertahankan pada
skala 1 (deviasi berat dari kisaran normal) ditingkatkan ke skala 4 (deviasi
ringan dari kisaran normal)
|
Intervensi:
1.
Monitor nutrisi
-
Monitor turgor kulit dan mobilitas
-
Indentifikasi perubahan berat badan terakhir
-
Identifikasi abnormalitas kulit (misalnya, memar berlebhan, penyembuhan
luka buruk dan perdarahan)
-
Timbang berat badan pasien
-
Lakukan pengukuran antropometrik pada posisi tubuh (misalnya, indeks
massa tubuh, pengukuran pinggang, dan lipatan kulit)
2.
Bantuan perawatan diri: pemberian makan
-
Monitor kemampuan pasien untuk menelan
-
Pastikan posisi pasien yang tepat untuk memfasilitasi mengunyah dan
menelan
-
Berikan bantuan fisik, sesuai kebutuhan
3.
Manajemen gangguan makan
-
Monitor intake/ asupan dan asupan cairan secara tepat
-
Ajarkan dan dukung konsep nutrisi yang baik dengan kilen ( dan orang
terdekat klien dengan tepat)
-
Dorong klien untuk mendiskusikan makanan yang disukai bersama dengan ahli
gizi
-
Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk mengembangkan rencana
perawatan dengan melibatkan klien dan orang-orang terdekatnya dengan tepat.
-
Rundingkan dengan tim dan klien untuk mengatur target pencapaian berat badan
jika berat badan klien tidak berada dalam rentang berat badan yang
direkomendasikan sesuai umur dan bentuk tubuh
4.
Manajemen nutrisi
-
Tentukan status gizi pasien dan kemampuan (pasien) untuk memenuhi
kebutuhan gizi
-
Tentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi yang di butuhkan untuk memenuhi
persyaratan gizi
-
Berikan pilihan makanan sambil menawarkan bimbingan terhadap pilihan
(makanan) yang lebih sehat, jika di perlukan
-
Lakukan atau bantu pasien terkait dengan perawatan mulut sebelum makan
|
|
3.
|
Diagnosis 3
Gangguan citra tubuh b/d penyakit
Defenisi : konfusi dalam gambaran mental tentang diri-fisik individu
Batas karakteristik:
1)
Berfokus pada penampilan masa lalu
2)
Gangguan fungsi tubuh
3)
Gangguan pandangan tentang tubuh seseorang
(penampilan)
4)
Penampilan
|
Noc :
1.
Citra tubuh
2.
Kesadaran diri
3.
Harga diri
4.
Tingkat kecemasan sosial
Kriteria hasil:
1.
Citra tubuh dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (tidak
pernah positif) ditingkatkan ke skala 4 (sering positif)
2.
Kesadaran diri dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1
(tidak pernah menunjukkan) ditingkatkan ke skala 4 (sering menunjukkan)
3.
Harga diri dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (tidak
pernah positif) ditingkatkan ke skala 4 (sering positif)
4.
Tingkat kecemasan sosial dengan skala target outcome dipertahankan pada
skala 1 (berat) ditingkatkan ke skala 4 (ringan)
|
Intervensi :
1.
Pengurangan kecemasan
-
Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan
-
Berikan informasi factual terkait diagnosis, perawatan dan prognosis
-
Dorong keluarga untuk dengan cara yang tepat.
-
Dengarkan klien
-
Puji/ kuatkan perilaku yang baik secara tepat
-
Dorong verbalisasi perasaan, persepsi dan ketakutan
-
Dukung penggunaan mekanisme koping yang sesuai
2.
Peningkatan citra tubuh
-
Bantu klien untuk mendiskusikan perubahan-perubahab(bagian tubuh)
disebabkan adanya penyakit atau pembedahan dengan cara yang tepat
-
Bantu klien memisahkan penampilan fisik dari perasaan berharga secara
pribadi, dengan cara yang tepat.
-
Monitor pernyataan yang mengidentifikasi citra tubuh mengenai ukuran dan
berat badan
-
Tentukan persepsi klien dan keluarga terkait dengan perubahan citra diri
dan realitas
3.
Peningkatan koping
-
Berikan penilaian (kemampuan) penyesuaian pasien terhadap
perubahan-perubahan dalam citra tubuh, sesuai dengan indikasi.
-
Berikan penilaian menegani pemahaman klien terhadap proses penyakit
-
Sediakan informasi aktual mengenai diagnosis, penanganan, dan prognosis.
4.
Peningkatan harga diri
-
Tentukan kepercayaan diri pasien dalam hal penilaian diri
-
Dukung pasien untuk bisa mengidentifikasi kekuatan
-
Sampaikan /ungkapkankepercayaan diri pasien dalam mengatasi situasi
|
|
4
|
Diagnosis 4
Intolenransi aktivitas b/d immobilitas
Defenisi : ketidakcukupan energi psikologis atau fisiologis untuk
melanjutkan atau menyelesaikan aktifitas kehidupan sehari hari yang harus
atau yang ingin dilakukan
Batasan karakteristik:
1)
Dispnea setelah beraktifitas
2)
Keletihan
3)
Imobilitas
4)
Tirah baring
|
Noc:
1.
Toleransi terhadap aktivitas
2.
Daya tahan
3.
Status jantung paru
4.
Konservasi
5.
Tingkat kelehan
Kriteria hasil:
1.
Toleransi terhadap aktivitas dengan skala target outcome dipertahankan
pada skala 1 (sangat terganggu) ditingkatkan ke skala 4 (sedikit terganggu)
2.
Daya tahan dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (sangat
terganggu) ditingkatkan ke skala 4 (sedikit terganggu)
3.
Status jantung paru dengan skala target outcome dipertahankan pada skala
1 (deviasi berat dari kisaran normal) ditingkatkan ke skala 4 (deviasi ringan
dari kisaran normal)
4.
Konservasi energi dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1
(tidak pernah menunjukkan) ditingkatkan ke skala 4 (sering menunjukkan)
5.
Tingkat kelelahan dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1
(berat) ditingkatkan ke skala 4 (ringan)
|
Intervensi :
1.
Bantuan perawatan diri
-
Monitor kemampuan perawatan diri secara mandiri
-
Berikan bantuan sampai pasien mampu melakukan perawatan diri mandiri
-
Bantu pasien menerima kebutuhan (pasien) terkait dengan kondisi
ketergantungannya
-
Dorong pasien untuk melakukan aktivitas normal sehari-hari sampai batas
kemampuan (pasien)
-
Dorong kemandirian pasien, tapi bantu ketika pasien tak mampu
melakukannya
2.
Manajemen lingkungan
-
Ciptakan lingkungan yang aman bagi pasien
-
Singkirkan benda-benda berbahaya dari lingkungan
-
Lindungi pasien dengan pegangan pada sisi atau bantalan disisi ruangan
yang sesuai
-
Sediakan tempat tidur dengan ketinggian yang rendah, yang sesuai
-
Letakkan benda yang sering digunakan dalam jangkauan pasien
-
Sediakan linen dan pakaian dalam dengan kondisi baik, bebas dari residu
dan noda
3.
Peningkatan latihan: latihan kekuatan
-
Dapatkan persetujuan media untuk memulai program latihan kekuatan, jika
diperlukan
-
Bantu pasien dalam mengekspresikan nilai, kepercayaan dan tujuannya dalam
melakukan latihan otot dan kesehatan
-
Sediakan informasi mengenai fungsi otot, latihan fisiologis dan
konsekuensi dari penyalahgunaannya
4.
Terapi mobilitas sendi
-
Tentukan batasan pergerakan sendi dan efeknya terhadap fungsi sendi
-
Monitor lokasi dan kecenderungan adanya nyeri dan ketidaknyamanan selama
pergerakan atau aktivitas
-
Pakaikan baju yang tidak menghambat pergerakan pasien
-
Bantu pasien mendapatkan posisi yang optimal untuk pergerakan sendi aktif
maupun pasif
-
Lakukan latihan ROM pasif atau ROM dengan bantuan, sesuai indikasi
5.
Manajemen berat badan
-
Diskusikan pasien mengenai hubungan antara asupan makanan, olahraga,
peningkatan berat badan, dan penurunan berat badan
-
Hitung berat bdan ideal pasien.
6.
Manajemen nyeri
-Lakukan pengkajian nyeri komphrensif yang meliputi
lokasi, karakteritik, omset/durasi, frekuensi,intensitas dan faktor pencetus.
-Observasi adanya petunjuk non verbal mengenai
ketidaknyamanan tertutama kepada mereka yang tidak dapat berkomnikasi secara
efektif.
- Pastikan perawatan analgesik bagi pasien dilakukan
dengan pemantauan yang ketat.
-Gali bersama pasien faktor-faktor yang dapat
menurunkan atau memperberat nyeri;
-Berikan informasi yang mengenai nyeri,seperti penyebab
nyeri,berapa lama nyeri yang akan dirasakan, dan antisipasi dari
ketidaknyamanan akibat prosedur .
7.
Dukungan spiritual
-Gunakan komunikasi teraupetik dalam membangun hubungan
saling percaya dan careing
-Perlakukan individu dengan hormat dan bermartabat
-Ajarakan metode relaksasi, meditasi dan imajinasi
terbimbing
-Berikan privasi dan waktu yang tenang untuk
(dilakukannya) kegiatan spiritual
|
|
5
|
Diagnosis 5
Resiko kekurangan volume cairan
Faktor resiko:
Defenisi: kerentanan mengalami penurunan volume cairan intravasikuler,
intertisial, dan /atau intraseluler, yang dapat mengganggu kesehatan
Faktor risiko:
1)
Faktor yang memengaruhi kebutuhan cairan
2)
Gangguan mekanisme regulasi
3)
Kehilangan volume cairan aktif
4)
Penyimpangan yang memengaruhi absorbsi cairan
|
Noc :
1.
Hidrasi
2.
Kontrol resiko
3.
Defeksi resiko
4.
Eliminasi urine
Kriteria hasil:
1.
Hidrasi dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (sangat
terganggu) ditingkatkan ke skala 4 (sedikit terganggu)
2.
Kontrol risiko dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1
(tidak pernah menunjukkan) ditingkatkan ke skala 4 (sering menunjukkan)
3.
Deteksi risiko dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1
(tidak pernah menunjukkan) ditingkatkan ke skala 4 (sering menunjukkan)
|
Intervensi:
1.
Pemantauan (monitor) Elektrolit
-
Monitor serum elektrolit
-
Monitor serum albumin dan kadar protein total sesuai dengan indikasi ,
identifikasi kemungkinan penyebab ketidakseimbangan elektrolit.
-
Monitor adanya penyakit medis yang dapat menyebabkan ketidaksimbangan
elektrolit
2.
Manajemen elektrolit
-
Memonitor nilan serum yang abnormal
-
Monitor manifestasi ketidakseimbangan elektrolit
-
Monitor kehilangan cairan yang kaya dengan elektrolit (misalnya, suksion
nasogastrik, drainase ileostomy,diare,drainase luka dan diaporesis)
-
Pertahankan kepatenan akses intra vena
3.
Manajemen syok
-
Monitor adanya status hiperdinamik dari syok sepsispaska , resusistasi
cairan (misalnya, peningkatan curah jantung, penurunan volume sekuncup ,
kemerahan pada kulit atau penurunan suhu
-
Monitor status cairan , termasuk BB perhari , output urine perjam ,
intake dan output
-
Monitor fungsi ginjal ( misalnya nilai urea , kreatinin dan bersihan
kreatinin )
-
Berikan cairan IV sementara melakukan monitor tekanan hemodinamik dan
urine output sesuai kebutuhan
4.
Terapi intravena (IV)
-
Monitor kecepatan aliran intravena dan area selama pemberian infus
-
Monitor reaksi fisik terhadap adanya cairan berlebihan
-
Berikan pengobatan IV sesuai yang diresepkan , untuk hasilnya
|
|
6
|
Diagnosis 6
Risiko kerusakan integritas kulit
Defenisi : rentang mengalami kerusakan epidermis dan/ atau dermis, yang
dapat mengganggu kesehatan
Faktor risiko:
1)
Kelembapan
2)
Imunodifisiensi
3)
Gangguan turgor kulit
4)
Nutrisi tidak adekuat
|
Noc :
1.
Integitas jaringan: kulit dan membran mukosa
2.
Keparahan cairan yang berlebihan
3.
Status imunitas
4.
Kontrol resiko
Kriteria hasil:
1.
Integritas jaringan : kulit dan membran mukosa dengan skala target
outcome dipertahankan pada skala 1 (sangat terganggu) ditingkatkan ke skala 4
(sedikit terganggu)
2.
Keparahan cairan berlebihan dengan skala target outcome dipertahankan
pada skala 1 (berat) ditingkatkan ke skala 4 (ringan)
3.
Status imunitas dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1
(sangat terganggu) ditingkatkan ke skala 4 (sedikit terganggu)
|
Intervensi :
1.
Perawatan tirah baring
-
Monitor kondisi kulit (pasien)
-
Monitor komplikasi dari tirah baring (misalnya, kehilangan tonus otot,
nyeri punggung, kostipasi, peningkatan strees, kebingunan, depresi, perubahan
siklus tidur, infeksi saluran kemih, kesulitan dalam berkemih, pneumonia)
-
Jelaskan alasan diperlukannya tirah baring
-
Posisikan sesuai bodi aligment yang tepat
-
Hindari menggunakan linen kasur yang testurnya kasar
-
Tinggikan teralis tempat tidur dengan cara yang tepat
-
Letakkan alat untuk memposisikan tempat tidur dalam jangkawan yang mudah
-
Letakkan meja disamping tempat tidur berada dalam jangakuan pasien
-
Balikkan (pasien) sesua dengan kondisi kulit
-
Baringkan pasien yang tidak dapat mobilisasi paling tidak setia 2 jam,
sesuai jadwal yang spesifik
2.
Manajemen tekanan
-
Monitor mobilitas dan aktifitas pasien.
-
Monitor sumber gesekan dan tekanan
-
Berikan pakaian yang tidak ketat pada pasien
-
Tahan diri dari memberiakan tekanan pada bagian tubuh yang terkena dampak
-
Beri kasur dengan lipatan pada kaki
3.
Pencegahan luka tekan
-
Monitor kemampuan bergerak dan aktifitas- aktitas pasien.
-
Gunakan alat pengkajian luka tekan dari / dekubitus yang tepat untuk
menjadi resiko pada pasien
-
Ubah posisi klien dengan tekhnik yang benar (misalnya menghindari untuk
menggeser pasien) untuk mencegah trauma pada kulit
-
Gunakan bantal untuk meninggikan area yang tertekan
4.
Pengecekan kulit
-
Monitor kulit adanya ruam dan lecet
-
Monitir kulit untuk adanya kekeringan yang berlebihan dan kelembapan
-
Periksa kulit dan selaput lendir terkait adanya kemerahan, kehangatan
ekstrim edema, atau drainase
-
Gunakan alat pengkajian untuk mengidentifikasi pasien yang berisiko
mengalami kerusakan kulit (misalnya, skala braden)
5.
Pencegahan perdarahan
-
Monitor dengan ketat resiko terjadinya pendarahan pada pasien
-
Lindungi pasien daro trauma yang dapat menyebabkan pendarahan
-
Monitor tanda tanda vital ortostatik, termasuk tekanan darah
-
Hindari mengangkat benda berat
|
|
7
|
Dignosis 7
Risiko infeksi
Definisi: rentang mengalami invasi dan multiplikasi organisme patogen
yang dpat mengganggu kesehatan
Faktor resiko:
1)
Mal nutrisi
2)
Gangguan integritas kulit
3)
Imunosupresi
4)
Prosedur invasif
|
Noc :
1.
Keparahan infeksi
2.
Status imunitas
3.
Kontrol resiko
Kriteri hasil:
1.
Keparahan infeksi dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1
(berat) ditingkatkan ke skala 4 (ringan)
|
Intervensi:
1.
Perlindungan infeksi
-
Monitor adanya tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
-
Monitor kerentangan terhadap infeksi
-
Pertahankan asepsis untuk pasien berisiko \beriakn perawatan kulit yang
tepat untuk area (yang mengalami) edema
-
Periksa kondisi setiap sayatan bedah atau luka
-
Tingkatkan asupan nutrisi yang
cukup
2.
Manajemen pengobatan
-
Tentukan obat yang diperlukan dan kelola menurut resep dan/atau ptotokol
-
Monitor interaksi oabat yang non terapeutik
-
Monitor respon terhadap pengobatn dengan cara yang tepat
-
Pertimbangkan pengatahuan pasien mengenai obat-obatan
-
Pertimbangkan fakto-faktor yang dapat menghalangi pasien untuk
mengkonsumsi obat yang dikonsumsi pasien.
3.
Manajemen nutrisi
-
Identifikasi (adanya) alergi atau intoleransi makanan yang dimiliki
pasien
-
Berikan pilihan makanan sambil menawarkan bimbingan terhadap pilihan
(makanan yang lebih sehat jika diperlukan)
-
Lakukan atau bantu pasien terkait dengan perawatan mulut sebelum makan
-
Tentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi yang dibutuhkan untuk memudahkan
persyaratan gizi
4.
Peningkatan kesehatan mulut
-
Monitor kondisi mulut pasien (misalnya, bibir, lidah, membran mukosa,
gigi, guzi dan alat bantu gigi dan kesesuainnya)
-
Berikan screening mulut dan pengkajian resiko
-
Bantu pasien dalam (kegiatan) menyikat gigi guzi dan lidah membersihkan
menggunakan benang gigik, sesuai kebutuhan
5.
Pemulihan kesehatan mulut
-
Monitor kondisi mulut pasien (misalnya, bibir, lidah, membran mukosa,
gigi guzi, tambahan gigi dan kesesuaiannya) termasuk karakter dan
abnormalitas (mislnya, ukuran, warna, dan lokasi adanay lesi atau inflamasi
internal dan eksternal dan tanda gejala infeksi lainnya)
-
Beriakan obat kumur pada pasien (misalnya cairan anastesi, eferpesen,
salini, cairan pelapis, anti jamut dan anti bakteri)
-
Dorong pasien menghentikan (kebiasaan) merokok dan menyunyah tembakau.
-
Dorong pasien untuk menghentikan alkohol
6.
Terapi nutrisi
-
Dorong pasien untuk memilih makanan setengah lunak jiak pasie mengalami
kesulitan menelan karena menurunya salifa.
-
Monitor instruksi diet yang sesuai untuk memenuhi kebuthuan nutrisi
(pasien) perhari, sesuai kebutuhan
|
4.
Implementasi
Implementasi keperawatan
adalah tahap pelaksanaan yang dimulai setelah rencana tidankan disusun untuk
membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu rencana tindakan
yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi
masalah kesehatan klien
5.
Evaluasi
Perencanaan evaluasi memuat kriteria
keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan keperawatan, keberhasilan proses
dapat dilihat dengan jalan membandingkan antara proses dengan pedoman atau
rencana proses tersebut. Sedangkan keberhasilan tindakan dapat dilihat dengan
membandingkan antara tingkat kemandirian pasien dan tingkat kemajuan kesehatan
pasien dengan tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Nefrotik sindrom adalah
keadaan klinis yang disebabkan oleh peningkatan permeabilitas glomerulus
terhadap protein plasma yang menimbulkan proterinuri, hipoalbuminemia,
hiperlipidemia, dan edema.
Penyebab Nefrotik Syndrome dibagi menjadi 2 (dua) yang
pertama yaitu penyebab primer yang terdiri dari Glomeruloneftritis dan nefrotik
syndrome peruahan minimal. Yang kedua yaitu penyebab sekunder yang terdiri dari
Diabetes miletius, Sistema Lupus Eritematosus dan Amyloidosis.
B. Saran
Dengan
disusunnya makalah ini diharapkan kepada semua pembaca agar dapat menelaah dan
memahami apa yang tertulis dalam makalah ini sehingga bisa menambah pengetahuan
pembaca. Disamping itu, kami juga mengharapkan saran dan kritik dari para
pembaca sehingga kami bisa berorientasi lebih baik pada makalah kami
selanjutnya.
Komentar
Posting Komentar