Asuhan Keperawatan Sindrom Nefrotik



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Sindrom nefrotik (SN) ialah keadaan klinis yang ditandai oleh proteinuria masif,hipoproteinemia, edema, dan dapat disertai dengan hiperlipidemia. Angka kejadian SN di Amerika dan Inggris berkisar antara 2-7 per 100.000 anak berusia di bawah 18 tahun per tahun, sedangkan di Indonesia dilaporkan 6 per 100.000 anak per tahun, dengan perbandingan anak laki-laki dan perempuan 2:1. Sindrom nefrotik merupakan penyebab kunjungan sebagian besar  pasien di Poliklinik Khusus Nefrologi, dan merupakan penyebab tersering gagal ginjal anak yang dirawat antara tahun 1995-2000.Semua penyakit yang mengubah fungsi glomerulus sehingga mengakibatkan kebocoran protein (khususnya albumin) ke dalam ruang Bowman akan menyebabkan terjadinya sindrom ini.
Etiologi SN secara garis besar dapat dibagi 3, yaitu kongenital, glomerulopati primer/idiopatik, dan sekunder mengikuti penyakit sistemik seperti pada purpura Henoch-Schonlein dan lupus eritematosus sitemik. Sindrom nefrotik pada tahun pertama kehidupan, terlebih pada bayi berusia  kurang dari 6 bulan, merupakan kelainankongenital (umumnya herediter) dan mempunyai prognosis buruk.
B.        RUMUSAN MASALAH
1.         Bagaimana konsep dasar dari penyakit SN?
2.         Bagaimana konsep keperawatan penyakit SN?
C.       TUJUAN PENULISAN
1.         Tujuan Umum
Memperoleh pengetahuan dan gambaran yang jelas tentang penerapan asuhan keperawatan pada penderita penyakit sindrom nefrotik. Serta di harapkan mahasiswa mampu membuat asuhan keperawatan tentang penyakit sindrom nefrotik
2.         Tujuan Khusus
Dengan membaca makalah ini mahasiswa ataupun pembaca mampu:
a.         Mengetahui bagaimana konsep dasar dari penyakit sindrom nefrotik
b.        Mengetahui bagaimana konsep keperawatan dari penyakit sindrom nefrotik
D.      MANFAAT PENULISAN
1.         Bagi rumah sakit
2.         Sebagai sumbangan informasi tentang kasus- kasus dengan penyakit sindrom nefrotik.
3.         Bagi institusi pendidikan
4.         Dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam pembelajaran atau perkuliahan mengenai konsep dasar dan konsep keperawatan yang berhubungan  dengan penyakit sindrom nefrotik.
5.         Bagi profesi keperawatan
6.         Dapat menjadi penambah pengetahuan mengenai konsep dasar dan konsep keperawatan khususnya dalam melakukan praktik kesehatan serta dalam proses pembuatan ASKEP
7.         Bagi penulis
8.         Menambah wawasan dan pengetahuan tentang konsep dasar dan konsep keperawatan mengenai penyakit sindrom nefrotik, serta dapat dijadikan sebagai panduan belajar dan dalam pembuatan asuhan keperawatan.







BAB II
PEMBAHASAN
A.      Konsep Medis
1.         Pengertian
Nefrotik sindrom merupakan kelainan klinik yang ditandai dengan proteinuria, hipoalbuminemia, edema, dan hiperkolesterolemia (Baughman 2000).
Nefrotik sindrom adalah keadaan klinis yang disebabkan oleh peningkatan permeabilitas glomerulus terhadap protein plasma yang menimbulkan proterinuri, hipoalbuminemia, hiperlipidemia, dan edema.(Sowden 2002).
Nefrotik sindrom merupakan keadaan klinis dan biokimia yang melibatkan peningkatan permeabilitas glomeruli. Dapat terjadi berkaitan dengan berbagai penyakit ginjal.Tanda khas penyakit ini adalah edema, proteinuria, hipoalbuminemia dan hiperlipidemia (Sacharin, 1994).
Nefrotik sindrom adalah suatu ganggua dimana ginjal telah mengalami kerusakan, yang menyebabkan kebocoran protein dari darah kedalam urine. Nefrotik sindrom ditandai oleh proteinuri (Lebih dari 3,5 g / hari), hipoalbuminemia, hiperlipedemia edema. (http: / / en. Wikipedia.Org /`wiki/ nephritic_syndoreme, 2007).
2.         Etiologi
Penyebab Nefrotik Syndrome dibagi menjadi 2 (dua) yaitu:
a.         Primer
1)        Glomeruloneftritis
2)        Nefrotik syndrome peruahan minimal
b.        Sekunder
1)        Diabetes miletius
2)        Sistema Lupus Eritematosus
3)        Amyloidosis.
3.         Patofisiologi
Penyebab dari sindrom nefrotik terdiri dari  primer dan sekunder, penyebab secara primer berkaitan dengan berbagai penyakit ginjal, seperti: Glomerulonefritis,Nefrotik sindrom perubahan minimal.Sedangkan secara sekunder yaitu akibat infeksi, penggunaan obat, dan penyakit sistemik lain, seperti: Diabetes mellitus disertai glomerulosklerosis interkapiler, Sistema lupus eritematosus, Amyloidosis, dan trombosis vena renal. Kondisi dari sindrom nefrotik adalah hilangnya plasma protein, terutama albumin ke dalam urine.Meskipun hati mampu meningkatkan produksi albumin, namun organ ini tidak mampu untuk terus mempertahankannya jika albumin terus-menerus hilang melalui ginjal sehingga terjadi hipoalbuminemia.
Terjadi penurunan tekanan onkotik menyebabkan edema generalisata akibat cairan yang berpindah dari sistem vaskuler ke dalam ruang caiaran ekstraseluler.Penurunan sirkulasi volume darah mengaktifkan sistem renin-angiotensin menyebabkan retensi natrium dan edema lebih lanjut. Manifestasi hilangnya protein dalam serum akan menstimulasi sintesis lipoprotein di hati dan terjadi peningkatan konsentrasi lemak dalam darah (hiperlipidemia).
Sindrom nefrotik dapat terjadi di hampir  setiap penyakit renal intrinsik atau sistemik yang memengaruhi glomerulus. Meskipun secara umum penyakit ini dianggap menyerang anak-anak, namun sindromnefrotik juga terjadi pada orang dewasa termasuk  lansia..Respon perubahan patologis pada glomerulus secara fungsional akan memberikan berbagai masalah keperawatan pada pasien yang mengalami glomerulus progresif cepat
Kelainan yang terjadi pada sindrom nefrotik yang paling utama adalah proteinuria sedangkan yang lain dianggap sebagai manifestasi sekunder. Kelainan ini disebabkan oleh karena kenaikan permeabilitas dinding kapiler glomerulus yang sebabnya belum diketahui yang terkait dengan hilangnya muatan negative gliko protein dalam dinding kapiler.Pada sindrom nefrotik keluarnya protein terdiri atas campuran albumin dan protein yang sebelumnya terjadi filtrasi protein didalam tubulus terlalu banyak akibat dari kebocoran glomerolus dan akhirnya diekskresikan dalam urin.
Pada sindrom nefrotik protein hilang lebih dari 2 gram perhari yang terutama terdiri dari albumin yang mengakibatkan hipoalbuminemia, pada umumnya edema muncul bila kadar albumin serum turun dibawah 2,5 gram/dl. Mekanisme edema belum diketahui secara fisiologi tetapi kemungkinan edema terjadi karena penurunan tekanan onkotik/ osmotic intravaskuler yang memungkinkan cairan menembus keruang intertisial, hal ini disebabkan oleh karena hipoalbuminemia.Keluarnya cairan keruang intertisial menyebabkan edema yang diakibatkan pergeseran cairan. Akibat dari pergeseran cairan ini volume plasma total dan volume darah arteri menurun dibandingkan dengan volume sirkulasi efektif, sehingga mengakibatkan penurunan volume intravaskuler yang mengakibatkan menurunnya tekanan perfusi ginjal. Hal ini mengaktifkan system rennin angiotensin yang akan meningkatkan konstriksi pembuluh darah dan juga akan mengakibatkan rangsangan pada reseptor volume atrium yang akan merangsang peningkatan aldosteron yang merangsang reabsorbsi natrium ditubulus distal dan merangsang pelepasan hormone anti diuretic yang meningkatkan reabsorbsi air dalam duktus kolektifus. Hal ini mengakibatkan peningkatan volume plasma tetapi karena onkotik plasma berkurang natrium dan air yang direabsorbsi akan memperberat edema.
Stimulasi renis angiotensin, aktivasi aldosteron dan anti diuretic hormone akan mengaktifasi terjadinya hipertensi. Pada sindrom nefrotik kadar kolesterol, trigliserid, dan lipoprotein serum meningkat yang disebabkan oleh hipoproteinemia yang merangsang sintesis protein menyeluruh dalam hati, dan terjadinya katabolisme lemak yang menurun karena penurunan kadar lipoprotein lipase plasma. Hal ini dapat menyebabkan arteriosclerosis.
Pada status nefrosis hampir semua kadar lemak (kolesterol, trigliserida) dan lipoprotein serum meningkat. Hipoproteinemia merangsang sintesis protein menyeluruh dalam hati, termasuk lipoprotein dan katabolisme lemak menurun, karena penurunan kadar lipoprotein lipase plasma. Sistem enzim utama yang mengambil lemak dari plasma. Apakah lipoprotein plasma keluar melalui urin belum jelas  Sindrom nefrotik dapat terjadi dihampir setiap penyakit renal intrinsik atau sistemik yang mempengaruhi glomerulus. Meskipun secara umum penyakit ini dianggap menyerang anak-anak, namun sindrom nefrotik juga terjadi pada orang dewasa termasuk lansia. Respon perubahan patologis pada glomerulus secara fungsional akan memberikan berbagai masalah keperawatan pada pasien yang mengalami glomerulus progresif cepat.
Hilangnya protein menyebabkan penurunan tekanan osmeotik plasma dan peningkatan hidrostatik, yang mengakibatkan terjadinya akumulasi cairan dalam rongga interstisial dan rongga abdomen .penurunan volume cairan vaskuler menstimulis sistem rennin – angiotensin yang mengakibatkan disekresinya hormon antidiuretik (ADH), dan aldostreron, yang mengakibatkan reabsorbsi natrium (Na) dan air hingga mengalami peningkatan dan akhirnyamenambah volume intravaskuler.
4.         Patogenesis
Glomeruli adalah bagian dari ginjal yang berfungsi untuk menyaring darah.Pada nefrotik sindrom, glomeruli mengalami kerusakan karena inflamasi dan hialinisasi sehingga protein-protein yang berukurang kecil seperti albumin, imunoglobulin dan anti-trombin dapat melewati ginjal dan keluar bersama urine.
Albumin adalah protein dalam darah yang berfungsi mempertahankan tekanan osmotic koloid albumin berfungsi mencegah bocornya darah dari pembuluh darah kedalam jaringan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembenukan edema pada nefrotik syndrome adalah dikarenakan kerusakan mikrovaskuler dan retensi natrium dan air oleh karena kerusakan ginjal (akibat peningkatan sekresi angio tensin).
Didalam merespon kebocoran albumin, hati (liver) mensistesis lebih banyak protein, dan kadar protein-protein yang berukuran lebih besar menjadi meningkat (seperti alpha 2 – macoglobulindan lipoprotein). Peningkatan lipoprotein, kemudian direabsobsi oleh sel-sel tubuler, yang kemudian menompok dan membentuk oval fat bodies atau fatty casts(http: / / en. Wekipedi.Org / wiki / nephrotik syndrome, 2007).
5.         Manifestasi kliniks
a.         Tanda paling umum adalah peningkatan cairan di dalam tubuh, diantaranya adalah :
1)        Edema periorbital, yang tampak pada pagi hari
2)        Pitting, yaitu edema (penumpukan cairan) pada kaki bagian atas
3)        Penumpukan cairan pada rongga pleura yang menyebabkan efusi pleura
4)        Penumpukan cairan pada rongga peritoneal yang menyebabkan asites
b.        Hipertensi (jarang terjadi)karena penurunan voulume intravaskuler yang mengakibatkan menurunnya tekanan perfusi renal yang mengaktifkan sistem renin angiotensin yang akan meningkatkan konstriksi pembuluh darah.
c.         Beberapa pasien mungkin mengalami dimana urine berbusa, akibat penurunan tekanan permukaan akibat proteinuri
d.        Hematuri dan oliguri (tidak umum terjadi pada nefrotik syndrome).
e.         Pucat
f.         Anoreksia dan diare disebabkan karena edema mukosa usus.
g.        Sakit kepala, malaise, nyeri abdomen, berat badan meningkat dan keletihan umumnya terjadi.
h.        Gagal tumbuh dan pelisutan otot (jangka panjang)
i.          Proteinuria > 3,5 gr/hr pada dewasa atau 0,05 g/kg BB/hr pada anak-anak.
j.          Hipoalbuminemia < 30 gr/l
k.        Hiperlipidemia, umumnya ditemukan hiperkolesterolemia
l.          Hiperkoagulabilitas, yang akan meningkatkan risiko trombosis vena dan arteri.
m.      Kenaikan berat badan secara progresif dalam beberapa hari/minggu.
n.        klien mudah lelah atau lethargie tapi tidak kelihatan sakit payah.
6.         Pemeriksaan dignostik
a.         Laboratorium :
1)        Pemeriksaan sample urine
Pemeriksaan sample urine menunjukkan adanya proteinuri (adanya protein dalam urine)
2)        Pemeriksaan darah
a)         Hipoalbunemia, dimana kadar albumin kurang dari 30 gram/liter
b)        Hiperkolestrolemia (kadar kolestrol darah meningkat), khususnya peningkatan Low density lipoprotein (LDL), yang secara umum bersamaan dengan peningkatan VLDL
3)        Pemeriksaan elektrolit, ureum dan kreatinin, yang berguna untuk mengetahui fungsi ginjal.
b.        Pemeriksaan lain
Pemeriksaan lebih lanjut perlu dilakukan apabila penyebabnya belum diketahui secara jelas, yaitu:
1)        Biosi ginjal (jarang dilakukan pada anak-anak)
2)        Pemeriksaan penanda Auto – immune (ANA, ASOT, C3, cryyoglobulins, serum electrophoresis).
7.         Penatalaksanaan
a.         Supotrif
1)        Memonitor dan mempertahankan volume cairan tubuh yang normal.
a)         Memonitior urine output.
b)        Pemeriksaan tekanan darah secara berkalah
c)         Pembatasan cairan, sampai 1 liter
d)        Pemberian diuretic (furosemid IV).
2)        Memonitor fungsi ginjal :
a)         Lakukan pemeriksaan elektrolit, ureum dan kretinan setiap hari
b)        Hitung GFR setiap hari
3)        Mencegah komplikasi
4)        Pemberian transfuse albumin secara umum tidak dipergunakan karena efek kehilangannya hanya bersifat sementara
b.        Tindakan khusus:
1)      Pemberian imunosupresi untuk mengatasi glumerulonefritis (steroids, cyclosporine).
2)      Pembatasan glukosa darah, apabila diabetes milletius
3)      Pemberian ACE inhibitor : untuk menurunkan tekanan darah 
c.         Penatalaksanaan Keperawatan
1)   Tirah baring
Menjaga pasien dalam keadaan tirah baring selama beberapa harimungkin diperlukan untuk meningkatkan diuresis guna mengurangi edema. Baringkan pasien setengah duduk, karena adanya cairan di rongga thoraks akan menyebabkan sesak nafas. Berikan alas bantal pada kedua kakinya sampai pada tumit (bantal diletakkan memanjang, karena jika bantal melintang maka ujung kaki akan lebih rendah dan akan menyebabkan edema hebat).
2)   Terapi cairan
Jika klien dirawat di rumah sakit, maka intake dan output diukur secara cermat da dicatat. Cairan diberikan untuk mengatasi kehilangan cairan dan berat badan harian.
3)   Perawatan kulit
Edema masif merupakan masalah dalam perawatan kulit.Trauma terhadap kulit dengan pemakaian kantong urin yang sering, plester atau verban harus dikurangi sampai minimum. Kantong urin dan plester harus diangkat dengan lembut, menggunakan pelarut dan bukan dengan cara mengelupaskan. Daerah popok harus dijaga tetap bersih dan kering dan scrotum harus disokong dengan popok yang tidak menimbulkan kontriksi, hindarkan menggosok kulit.
4)   Perawatan mata
Tidak jarang mata anak tertutup akibat edema kelopak mata dan untuk mencegah alis mata yang melekat, mereka harus diswab dengan air hangat.
5)   Penatalaksanaan krisis hipovolemik.
Anak akan mengeluh nyeri abdomen dan mungkin juga muntah dan pingsan. Terapinya dengan memberikan infus plasma intravena. Monitor nadi dan tekanan darah.
6)   Pencegahan infeksi.
7)   Anak yang mengalami sindrom nefrotik cenderung mengalami infeksi dengan pneumokokus kendatipun infeksi virus juga merupakan hal yang menganggu pada anak dengan steroid dan siklofosfamid.
8)   Perawatan spesifik meliputi: mempertahankan grafik cairan yang tepat, penimbnagan harian, pencatatan tekanan darah dan pencegahan dekubitus.
9)   Dukungan bagi orang tua dan anak. Orang tua dan anak sering kali tergangu dengan penampilan anak. Pengertian akan perasan ini merupakan hal yang penting. Penyakit ini menimbulkan tegangan yang berta pada keluarga dengan masa remisi, eksaserbasi dan masuk rumah sakit secara periodik. Kondisi ini harus diterangkan pada orang tua sehingga mereka mereka dapat mengerti perjalanan penyakit ini. Keadaan depresi dan frustasi akan timbul pada mereka karena mengalami relaps yang memaksa perawatan di rumahn sakit.
10)    Bila pasien seorang anak laki-laki, berikan ganjal dibawah skrotum untuk mencegah pembengkakan skrotum karena tergantung (pernah terjadi keadaan skrotum akhirnya pecah dan menjadi penyebab kematian pasien).
Prognosis umumnya baik, kecuali pada keadaan-keadaan sebagai berikut :
a.         Menderita untuk pertamakalinya pada umur di bawah 2 tahun atau di atas 6 tahun.
b.        Disertai oleh hipertensi.
c.         Disertai hematuria.
d.        Termasuk jenis sindrom nefrotik sekunder.
e.         Gambaran histopatologik bukan kelainan minimal.
Pada umumnya sebagian besar (+ 80%) sindrom nefrotik primer memberi respons yang baik terhadap pengobatan awal dengan steroid, tetapi kira-kira 50% di antaranya akan relapse berulang dan sekitar 10%  tidak memberi respons lagi dengan pengobatan steroid. 
9.         Komplikasi
a.         Trombosis vena, akibat kehilangan anti – trombhin 3, yang berfungsi untuk mencegah terjadinya thrombosis. Thrombosis vena ini sering terjadi pada vena renalis. Tindakan yang dilakukan untuk mengatasinya adalah dengan pemberian heparin
b.        Infeksi (seperti haemophilus influenzae end streptococcus pneumonia), akiabt kehilangan immunoglobulin
c.         Gagal ginjal akut, akibat hipovolemia. Di samping terjadinya penumpukan cairan didalam jaringan, terjadi juga kehilangan cairan didalam intravaskuler
d.        Edema pulmonal, akibat kebocoran cairan, kadang masuk di dalam paru-paru yang menyebabkan hipoksia dan dispnea.
e.         Shock hipovolemik: terjadi terutama pada hipoalbuminemia berat (< 1 gram/100ml) yang menyebabkan hipovolemia berat sehingga menyebabkan shock.
f.         Kerusakan kulit        
g.        Peritonitis (berhubungan dengan asites)
h.        Hipovolemia
i.          Komplikasi tromboemboli- terombosis vena renal, trombosis vena dan arteri ekstremitas dan trombosis arteri serebral.

















10.    
Kondisi lemah
Resiko kerusakan integritas kulit
Asites
Menekan isi perut
Mual muntah
Nafsu makan menurun
Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan
Gangguan mobilisasi
Penekanan terlalu dalam pada tubuh
Pengiriman nutrisi dan oksigen kejaringan tubuh
Sindrom Nefrotik
Gangguan pembentukan glomerulus

Albumin melewati membrane bersama urine
Hipoalbumenia
Resiko kekurangan volume cairan
Hipovilemia
Tekanan koloid turun, tekanan hidrostatik turun
Cairan masuk keekstra seluler
Retensio cairan dirongga perut
Retensio cairan seluruh tubuh
Edema anasarka
Kelebihan volume cairan
Gangguan citra tubuh
Hipoksia ringan
Daya tahan tubuh menurun
Risiko infeksi
Intoleransi aktivitas
Pathawy







 












B.       Konsep keperawatan
1.         Pengkajian
a.         B1 (breathing)
Biasanya tidak didapkan adanya gangguan pola nafas dan jalan nafas walau secara frekuensi menglami peningkatan terutama pada faseakut. Pada fase lanjut sering didapatkan adanya gangguan pola nafas dan jalan nafas yang merupakan respons terhadap edema pulmoner dan efusi pleura
b.        B2 (blood)
Sering ditemukan penurunan curah jantung respon sekunder dari peningkatan beban volume
c.         B3 (brain)
Didapatkan edema wajah terutama periorbital, sclera tidak ikterik .status neurologis mengalami perubahan sesuai tingkat parahnya azotemia pada sistem saraf pusat.
d.        B4 (Bladder)
Perubahan warna urine output seperti warna urine berwarna kola.
e.         B5 (Bowel)
Didapatkan adanya mual dan muntah, anoreksia, sehingga sering didapatkan penurunan intake nutrisi dari kebutuhan.Didapatkan asites pada abdomen.
f.         B6 (Bone)
Didapatkan adanya kelemahan fisik secar umum, efek sekunder dari edema tungkai dari keletihan fisik secara umum
2.         Diagona keperawatan
a.         Kelebihan volume cairan b/d kelebihan asupan cairan
b.        Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidakmampuan makan
c.         Gangguan citra tubuh b/d penykit
d.        Intoleransi aktivitas b/d imobilisasi
e.         Risiko kekurangan volume cairan
f.         Risiko kerusakan integritas kulit
g.        Risiko infeksi
3.         Intervensi
No.
Diagnosa keperawatan
Noc
Nic
1
Diagnosis 1
Kelebihan volume cairan b/d kelebihan asupan cairan
Defenisi :peningkatan retensi cairan isotonik
Batasan karakteristik:
1)      Adanya bunyi jantung S3
2)      Anasarka
3)      Asuhan berlebihan haluaran
4)      Asotemia
5)      Dispnea
6)      Edema
7)      Efusi pleura
8)      Gangguan pola nafas
9)      Gangguan tekanan darah
10)  Gelisah
11)  Ketidakseimbangan elektrolit
12)  Oliguria
13)  Penambahan berat badan dalam waktu singkat
14)  Penurunan hemoglobin
Noc:
1.      Keseimbangan cairan
2.      Keseimbangan elektrolit
3.      Status pernapasan
4.      Eliminasi urine
5.      Tanda – tanda vital
6.      Keparahan cairan berlebihan
7.      Fungsi ginjal
Kriteria hasil:
1.      Keseimbangan cairan dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (sangat terganggu) ditingkatkan ke skala 4 (sedikit terganggu)
1.      Keseimbangan elektrolit dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (deviasi berat dari kisaran normal) ditingkatkan ke skala 4 (deviasi sedang dari kisaran normal)
2.      Status pernafasan dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (deviasi berat dari kisaran normal) ditingkatkan ke skala 4 (deviasi ringan dari kisaran normal)
3.      Eliminasi urin dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (sangat terganggu) ditingkatkan ke skala 4 (sedikit terganggu)
4.      Tanda-tanda vital dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (deviasi berat dari kisaran normal) ditingkatkan ke skala 4 (deviasi ringan dari kisaran normal)
5.      Eliminasi urin dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (sangat terganggu) ditingkatkan ke skala 4 (sedikit terganggu)
6.      Keparahan cairan berlebihan dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (berat) ditingkatkan ke skala 4 (ringan)
7.      Fungsi ginjal dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (sangat terganggu) ditingkatkan ke skala 4 (sedikit terganggu)
Intervensi :
1.      Monitor ttv
-          Monitor tekanan darah, nadi, suhu dan status pernapasan dengan tepat
-          Monitor warna kulit, suhu dan kelembapan
-          Identifikasi penyebab perubahan tanda-tanda vital
2.      Pemantauan (monitor elektrolit)
-          Monitor serum elektrolit
-          Monitor serum albumin dan kadar protein total sesuai dengan indikasi
-          Monitor rekaman EKG untuk mengetahui perubahan abnormal yang berkaitan dengan kadar kalium, kalsium, dan magnesium
-          Monitor tanda/gejala hipokalemia: kelemahan otot, iregularitas jantung (PVC), perpanjangan interval QT, depresi gelombang T, depresi segmen ST, adanya gelombang U, kelelahan, parastesia, penurunan refleks, anoreksia, konstipasi, penurunan motilitas usus, pusing, bingung, peningkatan sensitifitas terhadap digital, dan depresi pernapasan.
3.      Manajemen asam-basa
-          Monitor kecenderungan PH arteri, PaCO2 dan HCO3 dalam rangka mempertimbangkan jenis ketidakseimbangan yang terjadi (mis, respiratorik/metabolik) dan kompensasi mekanisme fisiologis yang terjadi (kompensasi paru atau ginjal dan penyangga fisiologis atau physiological buffers)
-          Pertahankan kepatenan jalan nafas
-          Posisikan klien untuk mendapatkan ventilasi yang adekuat (mis, membuka jalan nafas dan menaikkan posisi kepala di tempat tidur)
-          Pertahankan pemeriksaan berkala terhadap Ph arteri dan plasma elektrolit untuk membuat perencanaan perawatan yang akurat
4.      Manajemen elektrolit
-          Monitor nilai serum elektrolit yang abnormal
-          Monitor manifestasi ketidakseimbangan elektrolit
-          Pertahankan pemberian cairan IV berisi elektrolit dengan laju yang lambat
-          Konsultasikan dengan dokter jika tanda-tanda dan gejala ketidakseimbangan cairan dan/atau elektrolit menetap/memburuk
5.      Manajemen hipervolemia
-          Monitor pola pernapasan untuk mengetahui adanya gejala edema pulomonar (mis, cemas, sesak nafas, ortopnea, dispnea, takipnea, batuk, produksi sputum kental, dan nafas pendek)
-          Monitor suara paru abnormal
-          Monitor suara jantung abnormal
-          Monitor edema perifer
-          Monitor data lab yang menandakan adanya hemokonsentrasi (mis, natrium, BUN, hematokrit, gravitasi spesifik urin jika tersedia)
-          Monitor data lab yang menandakan adanya potensi terjadinya peningkatan tekanan onkolitik plasma (mis, peningkatan protein dan albumin) jika tersedia
-          Monitor data lab tentang penyebab yang mendasari terjadinya hipervolemia (mis, B-type, natriuretic peptide untuk gagal jantung, BUN, kreatinin dan GFR untuk gagal ginjal jika tersedia)
-          Timbang berat badan tiap hari dengan waktu yang tetap/sama (mis, setelah buang air kecil, sebelum sarapan) dan monitor kecenderungannya
6.      Terapi intra vena
-periksa tipe cairan, jumlah,kadaluarsa,karakteristik dari cairan dan tingkat merusak pada kontainer
-          monitor kecepatan aliran intravena dan area intravena selama (pemberian) infus
-           monitor reaksi fisik terhadap adanya cairan yang berlebihan
-          monitor tanda dan gejala yang berhubungan dengan flebitis infus dan infeksi lokal
-          seleksi dan siapkan IV pompa infus, sesuai indikasi.
7.      Terapi hemodialisa
-          Ambil sampel darah dan tinjau komponen kimiawi darah (nitrogen urea darah, serum kreatinin, serum Na, kalium, PO) sebelum memulai perawatan
-          Catat tanda-tanda vital: BB, suhu, denyut nadi, pernapasan, tekanan darah.
-          Lakukan hemodialisis sesuai peraturan
-          Monitor tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu, dan respon pasien selama dialisis.
-          Berikan heparin, sesuai peraturan
-          Hentikan hemodialisis sesuai dengan peraturan
-          Bandingkan organ vital dan komponen kimia darah pasca dialisis dan sebelum dialisis

2
Diagnosis 2
Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidakmampuan makan
Defenisi : asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik
Batas katrakteristik:
1)      Ketidakmampuan memakan makanan
2)      Sariawan rongga mulut
3)      Tonus otot menurun
4)      Kurang minat pada makanan
5)      Membran mukosa pucat
6)      Bising usus hiperaktif
Noc :
1.      Status nutrisi:
2.      Nafsu makan
3.      Kesehatan mulut
4.      Status menelan
5.      Berat badan : massa tubuh
6.      Status menelan : fase oral
Kriteria hasil:
1.      Status nutrisi dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (sangat menyimpang dari rentang normal) ditingkatkan ke skala 4 (sedikit menyimpang dari rentang normal)
2.      Nafsu makan dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (sangat terganggu) ditingkatkan ke skala 4 (sedikit terganggu)
3.      Kesehatan mulut dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (sangat terganggu) ditingkatkan ke skala 4 (sedikit terganggu)
4.      Status menelan dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (sangat terganggu) ditingkatkan ke skala 4 (sedikit terganggu)
5.      Berat badan : massa tubuh dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (deviasi berat dari kisaran normal) ditingkatkan ke skala 4 (deviasi ringan dari kisaran normal)


Intervensi:
1.      Monitor nutrisi
-          Monitor turgor kulit dan mobilitas
-          Indentifikasi perubahan berat badan terakhir
-          Identifikasi abnormalitas kulit (misalnya, memar berlebhan, penyembuhan luka buruk dan perdarahan)
-          Timbang berat badan pasien
-          Lakukan pengukuran antropometrik pada posisi tubuh (misalnya, indeks massa tubuh, pengukuran pinggang, dan lipatan kulit)
2.      Bantuan perawatan diri: pemberian makan
-          Monitor kemampuan pasien untuk menelan
-          Pastikan posisi pasien yang tepat untuk memfasilitasi mengunyah dan menelan
-          Berikan bantuan fisik, sesuai kebutuhan
3.      Manajemen gangguan makan
-          Monitor intake/ asupan dan asupan cairan secara tepat
-          Ajarkan dan dukung konsep nutrisi yang baik dengan kilen ( dan orang terdekat klien dengan tepat)
-          Dorong klien untuk mendiskusikan makanan yang disukai bersama dengan ahli gizi
-          Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk mengembangkan rencana perawatan dengan melibatkan klien dan orang-orang terdekatnya dengan tepat.
-          Rundingkan dengan tim dan klien untuk mengatur target pencapaian berat badan jika berat badan klien tidak berada dalam rentang berat badan yang direkomendasikan sesuai umur dan bentuk tubuh
4.      Manajemen nutrisi
-          Tentukan status gizi pasien dan kemampuan (pasien) untuk memenuhi kebutuhan gizi
-          Tentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi yang di butuhkan untuk memenuhi persyaratan gizi
-          Berikan pilihan makanan sambil menawarkan bimbingan terhadap pilihan (makanan) yang lebih sehat, jika di perlukan
-          Lakukan atau bantu pasien terkait dengan perawatan mulut sebelum makan
3.
Diagnosis 3
Gangguan citra tubuh b/d penyakit
Defenisi : konfusi dalam gambaran mental tentang diri-fisik individu
Batas karakteristik:
1)      Berfokus pada penampilan masa lalu
2)      Gangguan fungsi tubuh
3)      Gangguan pandangan tentang tubuh seseorang
(penampilan)
4)      Penampilan

Noc :
1.      Citra tubuh
2.      Kesadaran diri
3.      Harga diri
4.      Tingkat kecemasan sosial
Kriteria hasil:
1.      Citra tubuh dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (tidak pernah positif) ditingkatkan ke skala 4 (sering positif)
2.      Kesadaran diri dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (tidak pernah menunjukkan) ditingkatkan ke skala 4 (sering menunjukkan)
3.      Harga diri dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (tidak pernah positif) ditingkatkan ke skala 4 (sering positif)
4.      Tingkat kecemasan sosial dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (berat) ditingkatkan ke skala 4 (ringan)
Intervensi :
1.      Pengurangan kecemasan
-          Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan
-          Berikan informasi factual terkait diagnosis, perawatan dan prognosis
-          Dorong keluarga untuk dengan cara yang tepat.
-          Dengarkan klien
-          Puji/ kuatkan perilaku yang baik secara tepat
-          Dorong verbalisasi perasaan, persepsi dan ketakutan
-          Dukung penggunaan mekanisme koping yang sesuai
2.      Peningkatan citra tubuh
-          Bantu klien untuk mendiskusikan perubahan-perubahab(bagian tubuh) disebabkan adanya penyakit atau pembedahan dengan cara yang tepat
-          Bantu klien memisahkan penampilan fisik dari perasaan berharga secara pribadi, dengan cara yang tepat.
-          Monitor pernyataan yang mengidentifikasi citra tubuh mengenai ukuran dan berat badan
-          Tentukan persepsi klien dan keluarga terkait dengan perubahan citra diri dan realitas
3.      Peningkatan koping
-          Berikan penilaian (kemampuan) penyesuaian pasien terhadap perubahan-perubahan dalam citra tubuh, sesuai dengan indikasi.
-          Berikan penilaian menegani pemahaman klien terhadap proses penyakit
-          Sediakan informasi aktual mengenai diagnosis, penanganan, dan prognosis.
4.      Peningkatan harga diri
-          Tentukan kepercayaan diri pasien dalam hal penilaian diri
-          Dukung pasien untuk bisa mengidentifikasi kekuatan
-          Sampaikan /ungkapkankepercayaan diri pasien dalam mengatasi situasi

4
Diagnosis 4
Intolenransi aktivitas b/d immobilitas
Defenisi : ketidakcukupan energi psikologis atau fisiologis untuk melanjutkan atau menyelesaikan aktifitas kehidupan sehari hari yang harus atau yang ingin dilakukan
Batasan karakteristik:
1)      Dispnea  setelah beraktifitas
2)      Keletihan
3)      Imobilitas
4)      Tirah baring


Noc:
1.      Toleransi terhadap aktivitas
2.      Daya tahan
3.      Status jantung paru
4.      Konservasi
5.      Tingkat kelehan
Kriteria hasil:
1.      Toleransi terhadap aktivitas dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (sangat terganggu) ditingkatkan ke skala 4 (sedikit terganggu)
2.      Daya tahan dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (sangat terganggu) ditingkatkan ke skala 4 (sedikit terganggu)
3.      Status jantung paru dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (deviasi berat dari kisaran normal) ditingkatkan ke skala 4 (deviasi ringan dari kisaran normal)
4.      Konservasi energi dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (tidak pernah menunjukkan) ditingkatkan ke skala 4 (sering menunjukkan)
5.      Tingkat kelelahan dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (berat) ditingkatkan ke skala 4 (ringan)
Intervensi :
1.      Bantuan perawatan diri
-          Monitor kemampuan perawatan diri secara mandiri
-          Berikan bantuan sampai pasien mampu melakukan perawatan diri mandiri
-          Bantu pasien menerima kebutuhan (pasien) terkait dengan kondisi ketergantungannya
-          Dorong pasien untuk melakukan aktivitas normal sehari-hari sampai batas kemampuan (pasien)
-          Dorong kemandirian pasien, tapi bantu ketika pasien tak mampu melakukannya
2.      Manajemen lingkungan
-          Ciptakan lingkungan yang aman bagi pasien
-          Singkirkan benda-benda berbahaya dari lingkungan
-          Lindungi pasien dengan pegangan pada sisi atau bantalan disisi ruangan yang sesuai
-          Sediakan tempat tidur dengan ketinggian yang rendah, yang sesuai
-          Letakkan benda yang sering digunakan dalam jangkauan pasien
-          Sediakan linen dan pakaian dalam dengan kondisi baik, bebas dari residu dan noda
3.      Peningkatan latihan: latihan kekuatan
-          Dapatkan persetujuan media untuk memulai program latihan kekuatan, jika diperlukan
-          Bantu pasien dalam mengekspresikan nilai, kepercayaan dan tujuannya dalam melakukan latihan otot dan kesehatan
-          Sediakan informasi mengenai fungsi otot, latihan fisiologis dan konsekuensi dari penyalahgunaannya
4.      Terapi mobilitas sendi
-          Tentukan batasan pergerakan sendi dan efeknya terhadap fungsi sendi
-          Monitor lokasi dan kecenderungan adanya nyeri dan ketidaknyamanan selama pergerakan atau aktivitas
-          Pakaikan baju yang tidak menghambat pergerakan pasien
-          Bantu pasien mendapatkan posisi yang optimal untuk pergerakan sendi aktif maupun pasif
-          Lakukan latihan ROM pasif atau ROM dengan bantuan, sesuai indikasi
5.      Manajemen berat badan
-          Diskusikan pasien mengenai hubungan antara asupan makanan, olahraga, peningkatan berat badan, dan penurunan berat badan
-          Hitung berat bdan ideal pasien.
6.      Manajemen nyeri
-Lakukan pengkajian nyeri komphrensif yang meliputi lokasi, karakteritik, omset/durasi, frekuensi,intensitas dan faktor pencetus.
-Observasi adanya petunjuk non verbal mengenai ketidaknyamanan tertutama kepada mereka yang tidak dapat berkomnikasi secara efektif.
- Pastikan perawatan analgesik bagi pasien dilakukan dengan pemantauan yang ketat.
-Gali bersama pasien faktor-faktor yang dapat menurunkan atau memperberat nyeri;
-Berikan informasi yang mengenai nyeri,seperti penyebab nyeri,berapa lama nyeri yang akan dirasakan, dan antisipasi dari ketidaknyamanan akibat prosedur .
7.      Dukungan spiritual
-Gunakan komunikasi teraupetik dalam membangun hubungan saling percaya dan careing
-Perlakukan individu dengan hormat dan bermartabat
-Ajarakan metode relaksasi, meditasi dan imajinasi terbimbing
-Berikan privasi dan waktu yang tenang untuk (dilakukannya) kegiatan spiritual

5
Diagnosis 5
Resiko kekurangan volume cairan
Faktor resiko:
Defenisi: kerentanan mengalami penurunan volume cairan intravasikuler, intertisial, dan /atau intraseluler, yang dapat mengganggu kesehatan
Faktor risiko:
1)      Faktor yang memengaruhi kebutuhan cairan
2)      Gangguan mekanisme regulasi
3)      Kehilangan volume cairan aktif
4)      Penyimpangan yang memengaruhi absorbsi cairan
Noc :
1.      Hidrasi
2.      Kontrol resiko
3.      Defeksi resiko
4.      Eliminasi urine
Kriteria hasil:
1.      Hidrasi dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (sangat terganggu) ditingkatkan ke skala 4 (sedikit terganggu)
2.      Kontrol risiko dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (tidak pernah menunjukkan) ditingkatkan ke skala 4 (sering menunjukkan)
3.      Deteksi risiko dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (tidak pernah menunjukkan) ditingkatkan ke skala 4 (sering menunjukkan)

Intervensi:
1.      Pemantauan (monitor) Elektrolit
-          Monitor serum elektrolit
-          Monitor serum albumin dan kadar protein total sesuai dengan indikasi , identifikasi kemungkinan penyebab ketidakseimbangan elektrolit.
-          Monitor adanya penyakit medis yang dapat menyebabkan ketidaksimbangan elektrolit
2.      Manajemen elektrolit
-          Memonitor nilan serum yang abnormal
-          Monitor manifestasi ketidakseimbangan elektrolit
-          Monitor kehilangan cairan yang kaya dengan elektrolit (misalnya, suksion nasogastrik, drainase ileostomy,diare,drainase luka dan diaporesis)
-          Pertahankan kepatenan akses intra vena
3.      Manajemen syok
-          Monitor adanya status hiperdinamik dari syok sepsispaska , resusistasi cairan (misalnya, peningkatan curah jantung, penurunan volume sekuncup , kemerahan pada kulit atau penurunan suhu
-          Monitor status cairan , termasuk BB perhari , output urine perjam , intake dan output
-          Monitor fungsi ginjal ( misalnya nilai urea , kreatinin dan bersihan kreatinin )
-          Berikan cairan IV sementara melakukan monitor tekanan hemodinamik dan urine output sesuai kebutuhan
4.      Terapi intravena (IV)
-          Monitor kecepatan aliran intravena dan area selama pemberian infus
-          Monitor reaksi fisik terhadap adanya cairan berlebihan
-          Berikan pengobatan IV sesuai yang diresepkan , untuk hasilnya


6
Diagnosis 6
Risiko kerusakan integritas kulit
Defenisi : rentang mengalami kerusakan epidermis dan/ atau dermis, yang dapat mengganggu kesehatan
Faktor risiko:
1)      Kelembapan
2)      Imunodifisiensi
3)      Gangguan turgor kulit
4)      Nutrisi tidak adekuat
Noc :
1.      Integitas jaringan: kulit dan membran mukosa
2.      Keparahan cairan yang berlebihan
3.      Status imunitas
4.      Kontrol resiko
Kriteria hasil:
1.      Integritas jaringan : kulit dan membran mukosa dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (sangat terganggu) ditingkatkan ke skala 4 (sedikit terganggu)
2.      Keparahan cairan berlebihan dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (berat) ditingkatkan ke skala 4 (ringan)
3.      Status imunitas dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (sangat terganggu) ditingkatkan ke skala 4 (sedikit terganggu)
Intervensi :
1.      Perawatan tirah baring
-          Monitor kondisi kulit (pasien)
-          Monitor komplikasi dari tirah baring (misalnya, kehilangan tonus otot, nyeri punggung, kostipasi, peningkatan strees, kebingunan, depresi, perubahan siklus tidur, infeksi saluran kemih, kesulitan dalam berkemih, pneumonia)
-          Jelaskan alasan diperlukannya tirah baring
-          Posisikan sesuai bodi aligment yang tepat
-          Hindari menggunakan linen kasur yang testurnya kasar
-          Tinggikan teralis tempat tidur dengan cara yang tepat
-          Letakkan alat untuk memposisikan tempat tidur dalam jangkawan yang mudah
-          Letakkan meja disamping tempat tidur berada dalam jangakuan pasien
-          Balikkan (pasien) sesua dengan kondisi kulit
-          Baringkan pasien yang tidak dapat mobilisasi paling tidak setia 2 jam, sesuai jadwal yang spesifik
2.      Manajemen tekanan
-            Monitor mobilitas dan aktifitas pasien.
-            Monitor sumber gesekan dan tekanan
-            Berikan pakaian yang tidak ketat pada pasien
-            Tahan diri dari memberiakan tekanan pada bagian tubuh yang terkena dampak
-            Beri kasur dengan lipatan pada kaki
3.      Pencegahan luka tekan
-            Monitor kemampuan bergerak dan aktifitas- aktitas pasien.
-            Gunakan alat pengkajian luka tekan dari / dekubitus yang tepat untuk menjadi resiko pada pasien
-            Ubah posisi klien dengan tekhnik yang benar (misalnya menghindari untuk menggeser pasien) untuk mencegah trauma pada kulit
-            Gunakan bantal untuk meninggikan area yang tertekan
4.      Pengecekan kulit
-            Monitor kulit adanya ruam dan lecet
-            Monitir kulit untuk adanya kekeringan yang berlebihan dan kelembapan
-            Periksa kulit dan selaput lendir terkait adanya kemerahan, kehangatan ekstrim edema, atau drainase
-            Gunakan alat pengkajian untuk mengidentifikasi pasien yang berisiko mengalami kerusakan kulit (misalnya, skala braden)
5.      Pencegahan perdarahan
-            Monitor dengan ketat resiko terjadinya pendarahan pada pasien
-            Lindungi pasien daro trauma yang dapat menyebabkan pendarahan
-            Monitor tanda tanda vital ortostatik, termasuk tekanan darah
-            Hindari mengangkat benda berat

7
Dignosis 7
Risiko infeksi
Definisi: rentang mengalami invasi dan multiplikasi organisme patogen yang dpat mengganggu kesehatan
Faktor resiko:
1)      Mal nutrisi
2)      Gangguan integritas kulit
3)      Imunosupresi
4)      Prosedur invasif
Noc :
1.      Keparahan infeksi
2.      Status imunitas
3.      Kontrol resiko
Kriteri hasil:
1.      Keparahan infeksi dengan skala target outcome dipertahankan pada skala 1 (berat) ditingkatkan ke skala 4 (ringan)
Intervensi:
1.      Perlindungan infeksi
-            Monitor adanya tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
-            Monitor kerentangan terhadap infeksi
-            Pertahankan asepsis untuk pasien berisiko \beriakn perawatan kulit yang tepat untuk area (yang mengalami) edema
-            Periksa kondisi setiap sayatan bedah atau luka
-            Tingkatkan asupan nutrisi yang  cukup
2.      Manajemen pengobatan
-            Tentukan obat yang diperlukan dan kelola menurut resep dan/atau ptotokol
-            Monitor interaksi oabat yang non terapeutik
-            Monitor respon terhadap pengobatn dengan cara yang tepat
-            Pertimbangkan pengatahuan pasien mengenai obat-obatan
-            Pertimbangkan fakto-faktor yang dapat menghalangi pasien untuk mengkonsumsi obat yang dikonsumsi pasien.
3.      Manajemen nutrisi
-            Identifikasi (adanya) alergi atau intoleransi makanan yang dimiliki pasien
-            Berikan pilihan makanan sambil menawarkan bimbingan terhadap pilihan (makanan yang lebih sehat jika diperlukan)
-            Lakukan atau bantu pasien terkait dengan perawatan mulut sebelum makan
-            Tentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi yang dibutuhkan untuk memudahkan persyaratan gizi
4.      Peningkatan kesehatan mulut
-            Monitor kondisi mulut pasien (misalnya, bibir, lidah, membran mukosa, gigi, guzi dan alat bantu gigi dan kesesuainnya)
-            Berikan screening mulut dan pengkajian resiko
-            Bantu pasien dalam (kegiatan) menyikat gigi guzi dan lidah membersihkan menggunakan benang gigik, sesuai kebutuhan
5.      Pemulihan kesehatan mulut
-            Monitor kondisi mulut pasien (misalnya, bibir, lidah, membran mukosa, gigi guzi, tambahan gigi dan kesesuaiannya) termasuk karakter dan abnormalitas (mislnya, ukuran, warna, dan lokasi adanay lesi atau inflamasi internal dan eksternal dan tanda gejala infeksi lainnya)
-            Beriakan obat kumur pada pasien (misalnya cairan anastesi, eferpesen, salini, cairan pelapis, anti jamut dan anti bakteri)
-            Dorong pasien menghentikan (kebiasaan) merokok dan menyunyah tembakau.
-            Dorong pasien untuk menghentikan alkohol
6.      Terapi nutrisi
-            Dorong pasien untuk memilih makanan setengah lunak jiak pasie mengalami kesulitan menelan karena menurunya salifa.
-            Monitor instruksi diet yang sesuai untuk memenuhi kebuthuan nutrisi (pasien) perhari, sesuai kebutuhan

4.         Implementasi
Implementasi keperawatan adalah tahap pelaksanaan yang dimulai setelah rencana tidankan disusun untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu rencana tindakan yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan klien
5.         Evaluasi
Perencanaan evaluasi memuat kriteria keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan keperawatan, keberhasilan proses dapat dilihat dengan jalan membandingkan antara proses dengan pedoman atau rencana proses tersebut. Sedangkan keberhasilan tindakan dapat dilihat dengan membandingkan antara tingkat kemandirian pasien dan tingkat kemajuan kesehatan pasien dengan tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya.
BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Nefrotik sindrom adalah keadaan klinis yang disebabkan oleh peningkatan permeabilitas glomerulus terhadap protein plasma yang menimbulkan proterinuri, hipoalbuminemia, hiperlipidemia, dan edema.
Penyebab Nefrotik Syndrome dibagi menjadi 2 (dua) yang pertama yaitu penyebab primer yang terdiri dari Glomeruloneftritis dan nefrotik syndrome peruahan minimal. Yang kedua yaitu penyebab sekunder yang terdiri dari Diabetes miletius, Sistema Lupus Eritematosus dan Amyloidosis.
B.       Saran
Dengan disusunnya makalah ini diharapkan kepada semua pembaca agar dapat menelaah dan memahami apa yang tertulis dalam makalah ini sehingga bisa menambah pengetahuan pembaca. Disamping itu, kami juga mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca sehingga kami bisa berorientasi lebih baik pada makalah kami selanjutnya.









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asuhan Keperawatan Laringitis

SAP Sindrom Nefrotik

Asuhan Keperawatan Hipoparatiroid